8 Amanat Pemenangan Pemilu

Mengunjungi seluruh rumah warga Republik Indonesia untuk mendengarkan harapan dan suara hati mereka yang mungkin tidak tertulis media atau tidak tersuarakan di parlemen serta mengajak mereka berpartisipasi aktif bersama PKS dalam pesta rakyat pada pemilu 2009.


1. Meningkatkan taqorub pada Allah dan meniatkan dengan penuh keikhlasan kepada Allah semua amal dalam pemenangan pemilu 2009 sebagai ibadah jihad politik.

2. Meningkatkan ukhuwah dan soliditas sesama kader da’wah sebagai sumber kekuatan syarat kemenangan.

3. Memekarkan struktur partai sampai seluruh desa agar da’wah dapat menjangkau seluruh jengkal tanah republik yang telah diamanahkan Allah sebagai media da’wah tanpa kecuali.

4. Memperbanyak silaturahim dengan seluruh tokoh dan kelompok masyarakat tanpa membedakan aliran ideologi, agama, suku, ormas bahkan parpol mereka karena perjuangan kita adalah untuk kepentingan mereka semua.

5. Menebarkan senyum, sapa dan salam cinta pada seluruh warga masyarakat kapan dan dimanapun menerima mereka, karena itu mendekatkan hubungan batin dengan rakyat sekaligus sedekah yang murah dan meriah.

6. Meningkatkan pelayanan pada seluruh warga masyarakat baik mutu maupun kuantitasnya karena cinta kepada rakyat harus dibuktikan dengan pelayanan yang tulus dan tidak kenal lelah.

7. Mengunjungi seluruh rumah warga Republik Indonesia untuk mendengarkan harapan dan suara hati mereka yang mungkin tidak tertulis media atau tidak tersuarakan di parlemen serta mengajak mereka berpartisipasi aktif bersama PKS dalam pesta rakyat pada pemilu 2009.

8. Meningkatkan hubungan dengan insan media dan menjadikan mereka sebagai mitra strategis dalam mengusung agenda-agenda perubahan menuju Indonesia baru yang lebih baik. (Ketua TPPN, M Anis Matta)

                            

SELAMAT DATANG HARAPAN

SELAMAT DATANG HARAPAN
Arahan Ketua TPPN, Anis Matta,
pada Mukernas PKS 2008, Makassar 21-24 Juli 2008

بسماللهالرحمنالرحيم

Kita tidak boleh lelah. Sampai hari ini. Bahkan sampai kapan pun. Untuk terus mengulang-ulang cara kita membaca perjalanan panjang perjuangan dakwah ini. Cara kita memahami setiap satuan capaian akan sangat mempengaruhi persepsi kita tentang keseluruhan perjalanan perjuangan kita. Tidak semata bagaimana capaian itu dihasilkan, tapi juga bagaimana capaian itu dilanjutkan. Tidak semata bagaimana kemudahan didapat, tapi juga bagaimana gangguan dan rintangan datang menghambat.


Itu pula yang akan mengantarkan kita kepada sebuah sikap --sebagaimana dikatakan oleh Harun Al-Rasyid, “Saya tidak bangga dengan keberhasilan yang tidak saya rencanakan, sebagaimana saya tidak akan menyesal atas kegagalan yang terjadi di ujung segala usaha maksimal.” Ya, yang paling sempurna tentu saja keberhasilan yang diberikan Allah setelah usaha dan kerja-kerja maksimal.
Dengan cara membaca yang benar dan menelaah yang utuh tahapan demi tahapan perjalanan kita, maka kita akan selalu mendapat penjelasan baru yang terus menyegarkan, tentang bagaimana realitas perjuangan ini dicapai, dan apa yang harus kita lakukan untuk menciptakan realitas baru berkelanjutan.

1. Tafsir keimanan atas kemenangan sebelum kemenangan
Setiap kali realitas internal kita berubah, realitas eksternal di sekeliling kita juga berubah. Pernah ada suatu saat dimana kita tidak percaya bahwa 20% itu mungkin. Itu mimpi. Itu utopia. Kita mungkin tidak mengatakannya. Tapi cara kita bekerja tidak menunjukkan bahwa kita memang yakin bisa mencapainya.
Tapi hari ini semuanya berubah. Keyakinan kita berubah, bersama berubahnya angka-angka tentang PKS dalam survey-survey politik. Jauh sebelum angka-angka itu berubah, sesungguhnya telah terjadi perubahan-perubahan besar dalam diri kita. Pikiran kita berubah. Perasaan kita berubah. Tindakan kita juga berubah. Alam batin kita seluruhnya berubah.
Kesadaran yang mendalam akan adanya gap yang jauh antara target 20% dengan realitas kita dalam survey ---yang waktu itu berada dalam posisi 5%--- mendorong kita merumuskan STRATEGI yang jelas untuk mencapai sisa TARGET tersebut.
Pada saat yang sama, kita terus membangun motivasi bersama yang kuat untuk mencapai target tersebut. Motivasi bukan soal kata-kata. Motivasi adalah soal keyakinan. Dari keyakinan yang kuat, akan lahir pikiran yang besar. Sarana dan sumber daya selalu tunduk pada ide dan pikiran-pikiran. Sebagaimana sebaliknya, ide yang besar dan pemikiran yang kuat, akan menciptaan sarana-sarananya, dengan caranya sendiri. Karena itu, dalam pepatah Arab dikatakan, منجدوجد. Barangsiapa bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil.
Perubahan yang berkelindan dengan kesadaran itu, mengantarkan kita kepada tiga situasi batin yang sangat mempengaruhi pertumbuhan pemahaman dan cara kita bekerja. Pertama, kita mulai semakin mengerti apa sebenarnya masalah-masalah kita (الوعيبالمشكلة) dan mengerti bagaimana menyusun langkah-langkah kita (وضوحالخطة). Karena itu, dengan caranya yang unik, Allah mensyaratkan perubahan harus dimulai dari kita sendiri, dan permulaan itu adalah bagaimana kita mengerti masalah dan mengerti bagaimana menyusun langkah. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu kaum, hingga kaum itu mengubah diri mereka sendiri.”
Kedua, yang terus berubah dalam diri kita adalah semakin menguatnya kehendak dan kemauan kita (قوةالإرادة). Bahwa setiap kali kemauan kuat kita diberi taufik Allah untuk menjadi kenyataan, semakin pula kemauan itu terus menguat menjadi kehendak. Karena itulah, Islam memiliki caranya sendiri untuk membimbing kita, bahkan bila pun kerja-kerja kita tidak mendapatkan pengakuan yang semestinya dari orang lain, itu tidak boleh mengganggu semangat dan kekuatan kehendak. Sebab, Allah telah menjamin pengakuan dari-Nya, dengan caran-Nya sendiri. Bahwa Allah Yang Maha Melihat, menegaskan, Ia pasti akan melihat karya-karya itu. “Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu.’”
Ketiga, bahwa di dalam diri kita juga terus menguat spirit untuk terus bekerja dan bekerja (العملالمستمر). Dan bahkan dalam keberlanjutan kerja itulah proses menjadi baik, mendapat ampunan, dan diperbaiki oleh Allah akan kita dapatkan. Bila kita terus bekerja, mungkin akan selalu ada yang salah. Tapi dengan terus bekerja itulah Allah berjanji akan memperbaiki kesalahan kita. “Dan orang-orang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal-amal yang shalih, serta beriman pula kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka, dan memperbaiki keadaan mereka.” (QS. Muhammad: 2).

2. Hubungan kausalitas dalam peristiwa sejarah
Sejarah umat Islam sangat kaya dengan pelajaran penting tentang hukum sebab akibat. Bahwa sebuah kemenangan memiliki syarat-syaratnya. Sebagaimana kehancuran sebuah bangsa, sebuah umat, memiliki sebab-sebabnya.
Sebagaimana para individu memiliki ajal, begitu juga sebuah umat, memiliki umurnya sendiri. Allah SWT berfirman, “Dan setiap jiwa yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” Dalam firman-Nya yang lain, “Dan bagi setiap umat ada ajalnya.”
Karena itu, sebelum jauh-jauh berbicara tentang bagaimana sebuah partai harus menang, yang harus kita lakukan adalah menanyakan tentang bagaimana sebuah partai bisa hidup. Umur partai ditentukan oleh umur misinya, selama misi itu hidup, maka selama itu partai itu hidup. Hal-hal yang membuat sebuah partai bisa hidup adalah:
- Adanya misi kemanusiaan yang luhur dalam kerja-kerja politik partai itu. Misi itulah yang akan memberi sentuhan-sentuhan kemanusiaan pada kerja-kerja politik.
- Misi itu juga akan menerbitkan manfaat langsung, dalam bentuk spritual maupun material. Kehadiran partai yang punya misi akan memberi manfaat secara politik, sosial, maupun ekonomi.
Tetapi untuk bisa menjalankan misi itu, kita harus menjadi partai politik yang punya kemampuan untuk memimpin, leading, dengan menjalankan politik kemanusiaan di tengah politik kepentingan. Setelah berbicara tentang bagaimana sebuah partai politik bisa hidup (أسبابالحياة), maka kita harus berbicara tentang bagaimana partai politik itu bisa memimpin. Untuk menjadi partai yang mampu memimpin (leading) kita harus memiliki tiga hal. Dan, tiga hal ini yang harus terus kita ulang-ulang:
- Pertama, narasi yang besar. Kita hanya akan memimpin apabila kita membawa gagasan besar yang dapat merangkul dan mewadahi seluruh harapan dan energi masyarakat. Gagasan itulah yang memberi kanal yang dapat menyalurkan energi yang ada pada masyarakat dan mengubahnya menjadi harapan bersama yang mencerahkan.
- Kedua, kapasitas. Gagasan besar itu hanya akan menjadi realitas kalau ada kapasitas yang memadai ---pada skala individu maupun struktur--- yang dapat mengeksekusi gagasan itu.
- Ketiga, sumber daya. Dalam segala bentuknya, seperti informasi, pengetahuan, sarana finansial, dan lain-lain adalah sarana yang diperlukan untuk mengeksekusi gagasan tersebut.
Jadi, makin besar narasi, kapasitas, dan sumber daya kita, makin besar kemampuan kita mengeksekusi. Itu modal yang besar. Sesudah itu yang kita tunggu tinggal momentum. Kalau kita punya tigal hal di atas, maka peluang itu hanyalah masalah waktu. Kita akan mendapat kemenangan dan memimpin kalau kita mempunyai kemampuan mengelola ide-ide, memiliki kapasitas untuk mengeksekusi ide-ide itu, dan memiliki sarana untuk merealisasi ide-ide itu.
Itu sebabnya, di Bali, kenapa salah satu isu yang kita angkat adalah keterbukaan, karena di Bali kita bicara narasi. Sekarang, di sini kita bicara tentang kepemimpinan kaum muda, karena kita bicara tentang kapasitas. Nanti, ketika kita bicara tentang managing globalization, kita akan bicara tentang sumber daya.
Ada fakta mendasar yang harus kita sadari, bahwa kepemimpinan dan kekuasaan adalah dua hal yang sangat berbeda. Fakta itu melahirkan kaidah-kaidah penting:
- Bahwa tidak karena engkau berkuasa, maka secara otomatis engkau akan memimpin.
- Bahwa kadang engkau bisa memimpin meski tidak berkuasa.
- Bahwa untuk bisa memimpin, tidak serta merta engkau harus berkuasa.
- Bahwa boleh jadi, sebuah kekuasaan hanyalah awal dari sebuah keruntuhan.
Jadi, persepsi kita tentang memimpin dan berkuasa, akan sangat mempengaruhi cara kita bekerja dan cara kita meletakkan kekuasaan dalam daftar tema-tema besar pekerjaan kita.

3. Hambatan-hambatan untuk menang
Cita-cita besar selalu punya caranya sendiri untuk direalisasi, tapi juga punya hambatan-hambatanny a sendiri yang harus disiasati. Hambatan akan selalu ada. Masalahnya kemudian apakah hambatan itu relevan atau tidak. Masalahnya apakah kita bisa menciptakan cara-cara untuk melampui hambatan itu dengan baik.
Hambatan paling mendasar yang harus kita sadari adalah hambatan persepsi dalam betuk sindrom-sindrom. Setidaknya ada empat macam sindrom yang harus kita waspadai yang akan banyak menjadi hambatan serius bagi tercapainya kemenangan.
- Pertama, Sindrom ketakutan bila menang. Sindrom ini lebih khusus terkait dengan ketakutan akan apa yang muncul dari kemenangan berupa fitnah dunia.
- Kedua, sindrom inferiority complex. Perasaan minder dan rendah, merasa tidak mampu. Padahal kerja-kerja kepemimpinan, yang salah satunya mencakup kerja-kerja politik, adalah jenis kerja-kerja yang dibangun di jalur eksperimen. Dan bahwa Islam lah yang pertama kali mengenalkan metodologi dan tradisi eksperimen (المنهجالتجريبي). Sementara tradisi Yunani membangun filsafatnya atas dasar metafisika. Jadi eksperimen merupakan anak kandung peradaban Islam. Karena itu kerja-kerja dakwah dan politik harus merupakan kerja-kerja yang punya tradisi eksperimen yang kuat. Itu tidak bisa dilalui dengan sindrom rendah diri.
- Ketiga, sindrom pemisahan antara tarbiyah dan politik. Sindrom ini bisa memicu keresahan, menciptakan kesan dan perasaan, seakan-akan tarbiyah adalah kerja-kerja bersih, sementara politik adalah kerja-kerja kotor. Melahirkan perasaan bahwa seakan-akan tarbiyah adalah kerja-kerja mulia, sementara politik adalah kerja-kerja yang hina. Perasaan bahwa orang-orang tarbiyah adalah orang-orang yang suci, dan orang-orang politik adalah orang-orang yang berlumur keburukan. Pemisahan seperti itu sungguh sangat membahayakan. Karena itulah dalam situas-situasi seperti ini, saya sering teringat dengan syair yang dibacakan Abdullah bin Mubarok kepada Fudhail bin Iyadh:
ياعابدالحرمينلوأبصرتنالعلمتأنكبالعبادةتلعب
منكانيخضبجيدهبدموعهفنحورنابدمائناتتخضب
wahai ahli ibadah di dua tempat suci
jika kalian menyaksikan kami
niscaya akan tahu bahwa kalian bermain-main dengan ibadah itu
bila leher-leher kaliah basah berlumur air mata
maka leher-leher kami dengan darah-darah kami berlumuran

- Keempat, sindrom kesucian dalam berpolitik. Di sisi lain, perasaan suci juga bisa muncul dalam diri kita, sehingga menimbulkan sikap-sikap yang kurang produktif bagi perjalanan perjuangan kita. Seperti enggan bergaul dengan berbagai pihak. Karena kita menganggap kita suci, kita menganggap orang lain kotor. Sehingga kita pun tidak bisa memberdayakan. Padahal dalam hadits Rasulullah dikatakan,
إناللهلينصرهذاالدينحتيبرجلفاجر
“Sesungguhnya Allah akan menolong agama ini bahkan dengan orang yang suka bermaksiat.”
Persepsi yang harus kita bangun tentang mereka yang biasa berbuat maksiat adalah, pertama mereka obyek dakwah, kedua mereka adalah sumber daya. Suara orang kafir itu sumber daya, sebagaimana suara orang Muslim yang ahli maksiat, adalah juga sumber daya. Jangan sampai, karena kita merasa suci, kita tidak bergaul dengan orang lain. Sehingga kita tidak bisa memberdayakan. Menurut survey, salah satu faktor kemenangan kita di Jawa Barat itu karena dukungan orang-orang Cina dan tentara.

4. Realitas-realitas politik
Pada dasarnya kita sudah melampui hampir semua tahapan krusial, yang bisa menghambat rencana dan tahapan-tahapan yang kita canangkan untuk menang. Gagasan tentang new look new image menjelang tahapan take off preparation, isu tentang pluralitas, yang terus kita gaungkan, semuanya cukup memberi efek positif bagi persepsi orang lain tentang PKS.
Pada saat kita memasuki tahapan big wave, seiring terus menguatnya persepsi positif orang tentang PKS, kita harus mengetahui betul realitas-relaitas baru dalam politik Indonesia. Di antara realitas yang sangat penting itu adalah:
- Realitas demografi, bahwa tren pertumbuhan masyarakat berusia muda ---antara 17 tahun hingga 45 tahun-- populasinya mencapai 65 %.
- Perbandingan kaum urban-rural. Menurut data dari BPS, perbandingan ini akan mengalami titik balik pada tahun 2010 di mana perbandingannya menjadi sekitar 54% urban dan 46 rural.
- Distribusi informasi yang semakin merata karena peran media.
- Tidak ada lagi asimetris informasi. Karena konektifitas, maka disparitas antara desa dan kota dalam soal informasi tidak relevan.
Realitas baru perpolitikan di Indonesia tersebut, akan menyokong terjadinya proses transformasi besar-besaran dalam tradisi perpolitikan itu sendiri. Setidaknya ada empat macam transformasi yang akan terjadi:
- Pertama, Transformasi dari politik aliran menuju politik kemanusiaan. Orang nanti tidak melihat ideologi itu sebagai soal benar salah, tapi bagaimana idelologi itu membangun kemanusiaan. Dulu orang berbicara nasionalisme, karena nasionalisme adalah padanan dari anti kolonialisme. Karena nasionalisme adalah alat untuk melawan imperialisme.
- Kedua, Transformasi dari politik pencitraan menuju politik konten. Karena itu iklan-iklan politik sekarang mengalami inflasi. Kata-kata dalam iklan itu menjadi sangat artifisial, karena yang ingin dilihat orang adalah artikulasi yang bersifat live, nyata.
- Ketiga, Transformasi dari tokoh kharismatik kepada tokoh kinerja. Akan ada transformasi bahwa masyarakat semakin mengutamakan tokoh yang berbasis kinerja dari pada tokoh yang berbasis kharisma. Dan, ini merupakan salah satu perspektif penting dalam komunitas urban. Karena itu di sini ikatan-ikatan primordial seperti suku bisa jadi tidak relevan.
- Keempat, Transformasi dari orientasi kekuasaan kepada orientasi kepemimpinan. Bahwa politik tidak bisa lagi dipersepsi sebagai sarana untuk mengejar ambisi kekuasaan. Itu tidak akan mendapat tempat di masyarakat, seiring dengan realitas-realitas baru.
Berdasarkan realitas tadi saya percaya bahwa partai yang akan memenangankan pemilu mendatang bukan lagi partai yang canggih dengan operasi politiknya, tetapi partai yang hadir dengan gagasan yang inovatif dan solutif, fresh idea, yang dapat membangun kembali rasa cinta dan bangga setiap warga negara kepada bangsa dan tanah air.
Ide-ide yang inovatif dan solutif itu adalah ide-ide tentang the next Indonesia. Siapa yang bisa memiliki ide-ide tentang Indoneisa masa depan, dialah yang akan memimpin Indonesia.

5. Bagaimana Strategi Selanjutnya
Sebelum masuk ke strategi selanjutnya untuk menang, kita perlu menjawab pertanyaan fundamental. Pertanyaan fundamental itu adalah “mengapa kita harus menang.” Jawaban dari pertanyaan fundamental itu, secara umum dapat disarikan ke dalam prinsip-prinsip berkut:
1. Bahwa kehadiran kita sebagai pemimpin adalah matlabun jamahriiyun li inqadzi asya’b. Adalah tuntutan publik untuk menyelamatkan masyarakat. Ini bisa kita sebut dengan tuntutan sosial.
2. Bahwa upaya-upaya penyelamatan masyarakat itu merupakan kewajiban agama, tuntutan syariat Islam. Ini bisa dikatakan sebagai tuntutan moral.
3. Bahwa ada keniscayaan sejarah terkait dengan pergantian generasi. Ini bisa kita sebut dengan tuntutan sejarah. Bahwa sebuah generasi pasti akan digantikan oleh generasi berikutnya.
Sesudah itu semua, kita berbicara tentang bagaimana cara kita menang pada sisa tahapan selanjutnya. Setidaknya ada lima tema penting yang harus terus ada dalam kesadaran kita. Lima kesadaran itu menjadi semacam tonggak-tonggak yang bisa dijadikan pusaran bagi segala cara, upaya, untuk menuju kemenangan pada sisa tahapan berikutnya. Lima kesadaran itu adalah:
1. Setelah image keterbukaan, pruralitas, kita perlu menukik lebih dalam kepada kesadaran publik, bahwa PKS adalah ruh baru kebangkitan Indonesia. PKS adalah ruh baru dan tulang punggung kebangkitan bangsa Indonesia.
2. Mempertahankan posisi PKS sebagai news maker, opinion leader dan trend setter. Karena itu, dalam konteks ini kita perlu mengartikulasikan secara lebih luas dan mendalam tentang the next Indonesia, dan the road map to the next Indonesia, step by step.
3. Memperkuat wibawa institusi partai. Melalui pengokohan struktur, soliditas dan leaderhsip, serta kekuatan jaringan yang menjangkau setiap jengkal tanah di Republik ini.
4. Menebar pesona pribadi. Maksudnya, keberadaan kita sebagai kader, sebagai dai harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dalam berbagai kerja-kerja politik dan dakwah kita.
5. Menguatkan penerimaan dan dukungan internasional.

Pada akhirnya, segala cita-cita punya kadarnya untuk kita geluti prosesnya secara maksimal, tahap demi tahap. Tapi ia juga punya kadarnya untuk kita serahkan kepada Allah dengan penuh pengharapan dan doa yang juga maksimal. Sejarah Islam juga mengajarkan, betapa Rasululah dan para pejuang pendahulu kita yang shalih, telah membuktikan, ketika umat Islam mengawali cita-cita dengan keyakinan iman, niat yang tulus, kerja yang tak kenal lelah, maka sesudah itu biasanya Allah sendiri yang mengambil alih sisa pekerjaan itu semua. Dan, memberi mereka kemenangan yang nyata, nasran aziza, dengan cara Allah sendiri.
Maka saya sangat yakin, bila kita memiliki keyakinan yang kuat, ketulusan niat, kebersamaan yang kokoh, dan kerja keras tanpa kenal lelah, nanti Allah juga akan mengambil alih sisa-sisa pekerjaan yang masih besar, lalu memberi kita kemenangan-Nya, dengan cara-Nya sendiri, bahkan sering melampui batas-batas imajinasi kita, tanpa pernah kita mengerti.
Jangan pernah merasa kita akan bisa menyelesaikan pekerjaan ini sendiri. Tugas kita adalah menegaskan tekad dan memulai perjalanan. Setelah itu Allah akan membimbing kita hingga akhir perjalanan. Insya Allah.
اللهأكبر،اللهأكبرواللهأكبر،وللهالح

BACALEG PKS

Bakal Calon Anggota DPR-RI
Nama Daerah No Nama
Nangroe Aceh Darussalam - 01
1 M. Nasir Djamil (L) Komisi II (A-240)
2 Muhammad Ihsan, H. (L)
3 Mulyani, S.Ag (P)
4 Muhammad Rizal (L)
5 Salihin (L)
Nangroe Aceh Darussalam - 02
1 Raihan Iskandar, Lc (L)
2 Andi Salahuddin, SE (L) Komisi IX (A-241)
3 Suryani, S.Si (P)
4 Azhar, MT (L)
Sumatera Utara - 01
1 Tifatul Sembiring (L)
2 Muhammad Idris Luthfi, Drs., M.Sc (L) Komisi VII (A-242)
3 Ir. Kusuma Dewi Munthe, M.Eng (P)
4 Porkas Halomoan Rangkuti, SS (L)
5 Suriya Aifan, SH (L)
6 Pinta Siregar, dr. (P)
7 Hesti Mardiani, M.Ag (P)
8 Ummi Kalsum. SS (P)
Sumatera Utara - 02
1 Iskan Qolba Lubis, MA (L)
2 Yusri Efendi Lubis (L)
3 Hanni Sarihati Siregar (P)
4 Doli Gunawansyah Harahap, Ssos (L)
5 Maratussalihah, Lc (L)
6 Olivia, dr (P)
Sumatera Utara - 03
1 Ansory Siregar, Lc (L) Komisi IX (A-243)
2 Hidayani Fazriah Sitompul, Dr. (P)
3 Saut Maruli Tua Saragih Munthe (L)
4 Fitri Harahap, MH (P)
5 Yose Rizal Geneng (L)
6 Annio Indah Lestari, M.Si (P)
7 Rico Marbun (L)
Sumatera Barat - 01
1 Irwan Prayitno, DR (L) Komisi VII (A-244)
2 Hermanto, SE (L)
3 Deri Permatasari, DH (P)
4 Drs. Syaurium Sy. Khathib, H. (L)
5 Muhammad Taufik, S.Si (L)
6 Desi Asriani, S.Pt, M.Pd (P)
7 Fuadi Yatim, Dr. (L)
8 Enita Marsa, Dra. (P)
Sumatera Barat - 02
1 Refrizal, Drs (L) Komisi VI (A-245)
2 Ferry Nur, S.Si (L)
3 Susi Yemita, S.Si, Apt (P)
4 Amrizal M Nur. DR (L)
5 Rusdi Muchtar (L)
6 Hidayetti, SP (P)

Riau - 01
1 Chairul Anwar, Drs., Apt. (L) Komisi IX (A-246)
2 Veny Zano (L)
3 Asih Drajad Lumintu, S.Pd (P)
4 Alfaisal Jayuska (P)

Riau - 02
1 Abdul Jabbar, MA (L)
2 Hidayat Rohim (L)
3 Aida Malikha, S.Psi (P)
4 Tyas Soekarsono Utomo, Dr. (L)

Jambi - 01
1 Ruly Tisna Yuliansa, Ir. (L)
2 Desi Novrianti (P)
3 Janawir, dr (L)
4 Suryadi, Lc.S.Ag (L)
5 Sulthan, Lc (L)
6 Khairul Walid (L)
7 Rina Novita, Amd (P)
8 Nining Wilasari, SE (P)
Sumatera Selatan - 01
1 Musthafa Kamal (L) Komisi IX (A-248)
2 HM Yunus (L)
3 Fira Arsyad (P)
4 Abdul Malik (L)
5 Junaedi Syahputra (L)
6 Febriansyah (L)
7 Hero Ekonomosa, M.Sc (L)
8 Amarullah Adhi Saputra, B.Eng (L)
9 Hj. Husna (P)
Sumatera Selatan - 02
1 Bukhori Yusuf, MA (L)
2 Dewi Meryati Azka (P)
3 M. Darocky Willynova (L)
4 Muhammad Hermawan Ibnu Nurdin, S.Si (L)
5 Thol'at Wafa (L)
7 M. Lili Nur Aulia (L)
Bengkulu - 01
1 H. M. Syahfan Badri Sampurno, Drs. (L)
2 Elza Septarini (P)
3 M. Yunus (L)
4 Erniwati, SE (P)
5 Rida (P)
Lampung - 01
1 Almuzzammil Yusuf (L) Komisi III (A-249)
2 Agus Nurhadi, Dr. (L)
3 Desy Eviani, Hj. (P)
4 Murdiansyah (L)
5 Rahman Muzni, Drs. H. (L)
6 M. Nazir Hasan, K.H. (L)
7 Abdul Kadir (L)
8 Husna Hidayati (P)
9 Ananto Pratikno (L)
10 Deden Wahyudin (L)
Lampung - 02
1 Abdul Hakim, Ir. MM (L) Komisi V (A-250)
2 Kinkin Anida (P)
3 Ari Wibowo, Lc (L)
4 Qomaratul Kurniati, Hj (P)
5 Agus Wibowo (L)
6 Hilmuddin Sulani, Lc (L)
7 Siti Asma, Hj (P)
8 Effendi Husein, Drs (L)
9 Bambang Edin Purnomo (L)

Bangka Belitung - 01
1 Syahidil, Ir (L)
2 Iie Sumirat (L)
3 Silvia Emilia (P)
4 Menkiong (L)

Kepulauan Riau - 01
1 Herlini Amran, MA. (P)
2 Sa'id Iqbal (L)
3 Khusnul Inayati (P)

DKI Jakarta - 01
1 Ahmad Zainuddin, Lc (L)
2 Rama Pratama (L) Komisi XI (A-253)
3 Suzy Mardiani (P)
4 Adi Susilo (L)
5 Agung Yulianto, Ak. (L)
6 Anis Byarwati (P)
7 Ali Ahmadi (L)

DKI Jakarta - 02
1 M. Sohibul Iman, Dr. (L)
2 Ahmad Faradis (L)
3 Nursanita Nasution, Dr. (P) Komisi XI (A-252)
4 Fitra Arsil, SH (L)
5 Abdul Muiz, MA (L)
6 Azimah Subagio (P)
7 Evi Risnayanti, SH (P)
8 Abdullah Haidir, MA (L)

DKI Jakarta - 03
1 Adang Daradjatun (L)
2 Ahmad Relyadi (L)
3 Wirianingsih (P)
4 Taufik Ramlan Wijaya, Dr. (L)
5 Eka Wardiyati, Dra. (P)
6 Abdul Aziz Matnur (L)
7 Haekal Jauhari (L)
8 Samin Barkah, Lc (L)
9 Lilik Solihah (P)
10 Ofiyati Sobriyah (P)

Jawa Barat - 01
1 Suharna Surapranata (L)
2 Ledia Hanifa (P)
3 Adang, dr. (L)
4 Setiadi Yazid (L)
5 Upik Siti Ranah (P)
6 Saiful Islam (L)
7 Asep Wawan (L)
8 Arif Minardi (L)
Jawa Barat - 02
1 Ma'mur Hasanuddin (L) Komisi VIII (A-257)
2 Dumilah Ayuningtyas (P)
3 Husein Al Banjari (L)
4 Joko Sarwono (L)
5 Achmad Nuryasin (L)
6 Neneng Fathonah (P)
7 Agus Kusnayat, MT (L)
8 Zirly Nova Jamil (P)
9 Jajang Rohana (L)
10 Ayi Khodijah (P)
11 Muhammad Ibrahim (L)
12 Abdul Hadi Wijaya (L)
Jawa Barat - 03
1 Untung Wahono (L) Komisi I (A-259)
2 Ahmad Mabruri MA (L)
3 Ana Mariani Kartasasmita (P)
4 Eki Awal Muharam (L)
5 Jalaluddin Syatibi (L)
6 Nenah Haryati, S.Sos. (P)
7 Abbas Aula (L)
8 Oceu Wiguna Juanda (L)
9 Burdah Athori (L)
10 Karantiano Sadasa Putra (L)
11 Syahrul Arif (L)
Jawa Barat - 04
1 Yudi Widiana Adia (L)
2 Achyar Eldin (L)
3 Ratih Nilam Widyani (P)
4 Budi Muhammad (L)
5 Asep Burhanudin (L)
6 Primanita Sukmawijaya (P)
7 Sugeng (L)
Jawa Barat - 05
1 Sunmanjaya Rukmandis (L)
2 M. Razikun (L)
3 Sarah Handayani, SKM., M.Kes. (P)
4 Ahmad Muarif, Drs. (L)
5 Sofyan Tsauri, Lc. (L)
6 Hana Rohayani, Dra. (P)
7 Rudi Rahmat, Ir. (L)
8 Taufiq Azhar, Dr. (L)
9 Rina Ningsih, Ir. (P)
10 Tubagus Agus Yusuf (L)
11 Arfan Malik (L)
Jawa Barat - 06
1 Mahfudz Abdurahman (L)
2 Musholi, Drs. (L)
3 Sitaresmi Soekanto (P)
4 DH. Al Yusni, Drs. (L) Komisi VIII (A-262)
5 Nani Handayani (P)
6 Alamsyah Agus (L)
7 Hanri Basel (L)
Jawa Barat - 07
1 Arifinto, Drs. (L)
2 Mardani, Dr. (L)
3 Dwi Septiawati, Dra. (P)
4 Aryo Judhoko, Drs. (L)
5 Najiyulloh (L) Komisi VI (A-263)
6 Ana Rosaliani, dr. (P)
7 RB Suryama M (L)
8 Iwan A. Fuad (L)
9 Nurul Hidayati (P)
10 Kodar Slamet S.Pd. (L)
11 Mukhayar Rustamudin (L)
12 Laila Fauziah (P)
Jawa Barat - 08
1 Mahfudz Sidik, Drs., M.Si. (L) Komisi II (A-265)
2 Aan Rohana (P) Komisi X (A-255)
3 Karyatin Subiyantoro, Drs. (L)
4 Iman Santoso, Lc (L)
5 Bakrun Syafei, MA (L)
6 Sri Hana (P)
7 Sunardi, Drs. (L)
8 Muhammad Apud Kusaeri (L)
9 Sri Pulungsari, SIP (P)
10 Ahmad Rusli (L)
11 Rizal Darmaputra (L)
Jawa Barat - 09
1 Nur Hasan Zaidi, S.Sos.I (L)
2 Wahyudin Munawir, Ir (L) Komisi VII (A-266)
3 Suhartimah (P)
4 Ayon Prasetyawan, Ir. (L)
5 Ade Syabul Huda, Lc. (L)
6 Ike Medyawati (P)
7 Agus Harsanto, Ir. (L)
8 Tata Nurwita (L)
9 Eulis, Hj. (P)
10 Dwi Fahrial (L)
Jawa Barat - 10
1 Surahman Hidayat, Dr. (L)
2 Umung A Sanusi (L) Komisi IV (A-267)
3 Sri Martini S, S.Sos (P)
4 Cahya Zaelani, Amd (L)
5 Handi Al Husein, S.Ag (L)
6 Nenen Mulyani (P)
7 Ita Nurwita (P)
8 Dhadi G. Drajat, Dr. (L)
Jawa Barat - 11
1 Kemal Stamboel (L)
2 Ade Barkah, Ir (L)
3 Sigit Pramono, SE, MSAcc (L)
4 Kokom Komalasari (P)
5 Nasdiyanto (L)
6 Hilman Rosyad (L) Komisi I (A-268)
7 Ade Ruhimat (L)
8 Yusi Fitri Mardiah (P)
9 Hermawan (L)
10 Aep Saefulloh (L)
11 Azriah Aini (P)
12 Yanti Humairo (P)
Jawa Tengah - 01
1 Zuber Safawi (L) Komisi X (A-269)
2 Bambang Wirahyoso (L)
3 Dini Inayati, ST (P)
4 Handoyo, SH (L)
5 Wahid Hasyim,Drs., H. (L)
6 Malichah, S.Pd (P)
7 Nana Sudiana, S.Sos (L)
8 Maria Septriana, A.Md (P)
9 Ahmad Irfan (L)
10 Bayu Laksana Henditya, dr (L)
Jawa Tengah - 02
1 Abdul Kharis, SE., Ak. (L)
2 Tolhah Bin Nokin, Lc (L)
3 Feni Feristin, S.Pd (P)
4 Imam Nur Aziz,S.Sos.,M.Sc. (L)
5 Muhith Muhammad Ishaq,Lc.MA. (L)
6 Nurusysyahadah, SP (P)
7 Ahmad Dzakirin,SS.,MSi (P)
8 Ulis Tofa Muhammad Ali, Lc (L)
Jawa Tengah - 03
1 M. Gamari, Dr. H. (L)
2 Muhammad Najib Subroto, SE (L)
3 Siti Aminah, S.Sos (P)
4 Muqoddam Kholil, MA.Dr. (L)
5 Muhammadun Abdul Hamid, Lc.MA. (L)
6 Anisah Rohimah, SE (P)
7 Ganjar Lestari, SH (L)
8 Nuryati, SE (P)
9 Choiriyah, S.Pd (P)
10 Marsudi Budi Utomo, Dr. (L)
11 Yuni Setiawati, SKM (P)
Jawa Tengah - 04
1 M. Martri Agoeng (L)
2 Amin Wahyudi , Drs., MM (L)
3 Wuryanti, MA (P)
4 Pramono, Ak. (L)
5 Heri Tomi, SE (L)
6 Dian Savitri, SH (P)
7 Umar Sanusi (L)
8 Nurul Fitri Isfari, dr. (P)
9 Lely Firli Rohmani, S.Psi (P)
Jawa Tengah - 05
1 M. Hidayat Nur Wahid, Dr. (L) (A-254)
2 Joko Widodo, Amd (L)
3 Setiawati Intan Safitri, SP. (P)
4 KH. Fadlan Adham Hasyim, Lc. (L)
5 Haryo Setyoko (L)
6 Ida Trianawati, dr. (P)
7 Hartono Iggi Putro, S.Sos. (L)
8 Zaenal Abidin, Drs. (L)
9 Mujiati, SE. Akt., M.Si (P)
10 Ahmad Supriyanto, dr (L)
Jawa Tengah - 06
1 Priyatno Edi Kuncoro, SE. (L)
2 Budi Santoso (L)
3 Siti Zaenab (P)
4 Saefudin, KH (L)
5 Muhammad Syahid (L)
6 Nur Hayati, S.Ag (P)
7 Hertanto Widodo, SE. (L)
8 Dardewantara, A.Md (L)
9 Dartomo M. Sidik (L)
10 Dwi Ambarwati, Hj. (P)
Jawa Tengah - 07
1 Sugihono, Ir (L)
2 Amrullah Ahmad, Dr. (P)
3 Nur Chasanah, Hj. (L)
4 Faqih Munandar (L)
5 Dzuroh Eniyati,A.Md (P)
6 Syamsiyah, S.Pd (P)
7 Ishaq Abdul Azis (L)
8 Tuty Kurniawati.A.Md (P)
Jawa Tengah - 08
1 Tossy Aryanto (L)
2 Suwarso, Dr. (L)
3 Arum Nur Aini, Dra. Hj. (P)
4 Pardan Prasetyo, MPd. (L)
5 Suharto B.Wiyono, H,SH, MH (L)
6 Wiwiek Yuning Prapti, Dra., Hj. (P)
7 Unggul Wibawa Widhayaka (L)
8 Anggoro Wignyo Saputro, SE (L)
9 Darmadi Nugroho Agung (L)
10 Rumanti Agustina,S.Si (P)
Jawa Tengah - 09
1 Suswono, Ir., MMA (L) Komisi IV (A-271)
2 Abdul Karim Nagib (L)
3 Sri Kusnaeni, Ir. (P)
4 Ahmad Hanafi, Drs. (L)
5 Rohmani, S.Pd. (L)
6 Muniroh, Hj (P)
7 Kuntjoro Pinardi, DR (L)
8 Faisal Amri, dr. (L)
9 Nur Pujiasih, S.Pd. (P)
10 Fachrudin (L)
Jawa Tengah - 10
1 Arsul Sani, SH, M.Si. (L)
2 Ainun Mardiyah, dr. (P)
3 Umar Salim, SIP (L)
4 Mustaqim HU (L)
5 Abdul Syukur (L)
6 Siti Rahmah, S.Ag. (P)
7 Saptadi Imam Santoso, S.Pt (L)
DI Yogyakarta - 01
1 Agus Purnomo (L) Komisi III (A-272)
2 Naharus Surur (L)
3 Dwi Kurnia Handayani, S.Sos. (P)
4 Bodi Dewantoro, SH,Mhum (L)
5 RMA Hanafi, Drs. (L)
6 Dwi Aprilisasi, S. Si (P)
7 Basuki Abdurahman, Drs, M.Si. (L)
8 Habibah, S.Ag. (P)
Jawa Timur - 01
1 Sigit Sosiantomo, Ir. (L)
2 Suripto, SH (L) Komisi I (A-273)
3 Iswiyanti Widyawati, dr. (P)
4 Muhammad Sodik, Drs. (L)
5 Syarif Muhtarom (L)
6 Lina Ariani (P)
7 Farid Marzuki, Lc. (L)
8 Rudi Artono, dr. (P)
9 Lisdiyarti (P)
10 Rusli Efendi (L)
11 Ahmad Syukron (L)
12 Dyah Ayu (P)

Jawa Timur - 02
1 M Firdaus, Dr. (L)
2 Misbakhun, Ak. (L)
3 Aliyah Attamimi (P)
4 Muhammad Badaruddin, M.Sc. (L)
5 Edi Waskito (L)
6 Siti Marsiyah, dr. (P)
7 Zufar Bawazir (L)
8 Imam Joko SSi. (L)
Jawa Timur - 03
1 Usman Efendi, M.Sc. (L)
2 Cung Kusaeri (L)
3 Maryam Laila Musthofa, S.Ag. (P)
4 Widodo (L)
5 Warsidiyanto (L)
6 Dwi Hardiyanti (P)
7 Imaduddin Jamil (L)
8 Farida Kurniawati, SE (P)
Jawa Timur - 04
1 Agoes Kooshartoro, dr, SpPD. (L)
2 Gunawan (L)
3 Elly Nikmawati (P)
4 Syamsul Bahri, M.Si. (L)
5 Tintin Farida (P)
6 Ridho Kurniawan (L)
7 Hendratno (L)
Jawa Timur - 05
1 Luthfi Hasan Ishaaq, MA. (L) Komisi XI (A-274)
2 Budiyanto, M.Eng. (L)
3 Imamah Zuhro, M.Sc. (P)
4 Otto Budihardo, Ak., MM. (L)
5 Juni Farhan, Dr. (L)
6 Maya Novita, Lc., MA. (P)
7 Muhamadun (L)
Jawa Timur - 06
1 Amin, Ak, MM. (L)
2 Nur Azizah Tamhid, MA. (P)
3 Junef Ismaliyanto (L)
4 H. Muhammad Hamim (L)
5 dr. Susilo (L)
6 Drs. Syamsul Hadi (L)
Jawa Timur - 07
1 Rofi' Munawar, Lc. (L)
2 NAVIS MURBIYANTO (L)
3 Nuzulia (P)
4 Maryudhi Wahyono (L)
5 Abdul Hakim Syafii (L)
6 Retno Damayanti (P)
7 Saiful Wari, Ir. (L)
Jawa Timur - 08
1 Memed Sosiawan, Ir. (L)
2 Ananto Pratikno (L)
3 Zahrul Azhar, SIp., M Kes (L)
4 Indah Sat Rahmaniati, Drg. (P)
5 Makhsusiati, Dra. (P)
6 Zulhilmi Asad, S.Ag. (L)
7 Nur Aini (P)
Jawa Timur - 09
1 Zakaria Sorga (L)
2 Taridi, MBA. (L)
3 Ningrum Agustina (P)
4 Syamsu Kohar, Ir. MM. (L)
Jawa Timur - 10
1 Aunurrofiq Sholeh T., Lc (L)
2 Ratri Handayani (P)
3 Slamet Wahyudi, SH., MKM (L)
4 Turhan Faqih, Drs., MAg. (L)
5 M. Azhari Hatim, MA (L)
6 Zuhrotin Niskiyah, S.Ag (P)
7 Ahmad Rofi' Syamsuri (L)

Jawa Timur - 11
1 Sapto Waluyo, Drs, MSc. (L)
2 Budi Hermawan, Ir, Msi. (L)
3 Sri Hidayati (P)
4 Tamar Jaya, Ir.MM (L)
5 Hikmah, MA (L)
6 Amir Faishol Fath, Dr. (L)
Banten - 01
1 Syamsu Hilal (L) Komisi IV (A-256)
2 Oke Setiadi (L)
3 Lilis Mahmudah (P)
4 Yayat Suhartono (L)
5 Emma Ruchaemah (P)
6 Samson Rahman (L)
7 Muhsin Soleh (L)
Banten - 02
1 Zulkiflimansyah (L) Komisi VI (A-276)
2 Sadeli Karim (L)
3 Tini Rahmawati, MA (P)
4 Zaenal Arifin (L)
5 Eti Rusmiati (P)
6 Muhammad Nadjib Soewarno, Ir. (L)
7 Eman Sukirman, S. E. (L)
Banten - 03
1 Yoyoh Yusroh (P) Komisi VIII (A-261)
2 Jazuli Juwaini (L) Komisi II (A-277)
3 Warsito, Dr. (L)
4 Ahmad Aryandra (L)
5 Indra, SH (L)
6 Nurul Hidayati (P)
7 Abu Yasir Kamino (L)
8 Nirwan Nazaruddin (L)
9 Nurul Hurriyah, SKM (L)
10 M. Nasir Abdullah (P)
11 Ajisman, Dr. (L)

Bali - 01 1 Deni Daruri (L)
2 Ismail Lahji, Lc (L)
3 Sri wahyu Pujiani (P)
4 I Gusti Agung Gde Eka (L)
5 Turmudzi (L)
6 Evi Diana Kusumawati (P)
7 Slamet Sugiyono (L)
8 Irianto, SE. (L)
9 Juwita Rarasmaya, SP (P)
10 Mabni Darsi, Lc. (L)
11 Yayuk Herawati (P)

Nusa Tenggara Barat - 01
1 Fahri Hamzah, SE (L) Komisi VI (A-278)
2 Dwi Trijono, SH (L)
3 Istiningsih (P)

Nusa Tenggara Timur - 01
1 Sugeng Susilo, SE,. Ak (L)
2 Zainuddin Paru, S.H. (L)

Nusa Tenggara Timur - 02
1 H. Sulaiman, SKom (L)
2 H. Muhammad (L)
3 Mailan Sari (P)

Kalimantan Barat - 01
1 H. Rahman Amin (L)
2 Abdullah , S.PdI (L)
3 Ir. H.Abdussalam Bambang Mulyono Al Hinduan (L)
4 Ida Jumiati, S.Sos, M.Si (P)
5 Uray Santi (P)
6 Yacub Muhsin, H. SH. MH (L)
7 Joni Tanjung (L)
8 Syarifah Helda Al Haddad, SE (P)
9 Arba'in, SE (L)
10 Ruswati (P)
11 Solehah (P)

Kalimantan Tengah - 01
1 H. Antang Dwi Dasono, Ir (L)
2 Endang Hariyanti (P)
3 Ana Indriani, S.Pd. (P)
4 M. Taufik B. Darus, BBA. (L)

Kalimantan Selatan - 01
1 Aboe Bakar Al Habsyi (L) Komisi V (A-279)
2 Musyaffa Ahmad Rahim (L)
3 Hj. Syarifah Ramadhana (P)
4 DR. Shabran (L)
5 H. Bahrani (L)
6 Hj. Iis (P)
7 Drs. H. Bardiansyah (L)

Kalimantan Selatan - 02
1 Nabiel Fuad Al Musawa, Ir, M.Si . (L)
2 Drs. H. Badrani (L)
3 Hj. Hernawati (P)
4 Drs. H. M. Asy'ari ,MA (L)
5 KH. M. Basyuni (L)
6 Boy Hamidi (L)

Kalimantan Timur - 01
1 Aus Hidayat Nur (L)
2 Ahmad Chudori, ST (L) Komisi V (A-280)
3 Purwinahyu, S.Psi., MM (P)
4 Satya Graha (L)
5 Hj. Herminah Junaid, Lc (P)
6 Nur Laili Puspa, S.Pd., MM (P)

Sulawesi Utara - 01
1 Khalilullah Akhmas, Lc., KH (L)
2 Najmi Puspasari Marasabessy, dr. (P)
3 Muslih Abdul Gani, dr. (L)
4 Jefry Johanes Makalegi, ST (P)
5 Ridwan Olii (L)
6 Marina Limbanadi (P)
7 Irawan Damopolii (L)

Sulawesi Tengah - 01
1. Adhyaksa M.Daulth (L)
2 Akbar Zulfakar (L)
3 Rahmawati Ottoluwa, S.Sos (P)
4 Abdul Haris N. Baginda (L)
5 Hj. Syifa Abd. Rauf Sulaeman (P)
6 H. Hasan Bastari, BBA (L)

Sulawesi Selatan - 01
1 M. Anis Matta, Lc. (L) Komisi I (A-251)
2 Muhammad Ihsan, S.Ag (L)
3 Ismayati (P)
4 Halim A. Razak, Drs. (L)
5 Andi Maddusila Andi Ijo (L)
6 Defty Rezkiwati Ande Latief (P)
7 Asmin Amin (L)
8 Tajuddin Noer, Drs (L)
9 Sri Handini Chrisagiati (P)
10 Ahmad Maulana Dg Emba, SE. (L)

Sulawesi Selatan - 02
1 Tamsil Linrung (L) Komisi IV (A-281)
2 Cahyadi Takariawan, Apt. (L)
3 Fadliyah Syamsuddin, Dra. (P)
4 Mubyl Handaling, Ir (L)
5 M. Nadjib Bustan, Prof. (L)
6 Kasma F. Amin, SS. (P)
7 Andi Baso Abdullah (L)
8 Muhammd Nasyit Umar, H. Ir. MM. (L)
9 Hj. Munarti Ismail Paroki, SE. (P)
10 M. Yahya Rasyid, MH. (L)
11 Muzakkir (P)

Sulawesi Selatan - 03
1 Andi Rahmat, SE (L) Komisi XI (A-282)
2 Muzakkir Arif, MA. (L)
3 Irmawati Tahir (P)
4 Bachder Djohan, Ir., MM (L)
5 Iskandar Pasadjo (L)
6 H. Salmiyah, SH (P)
7 Syahrir (L)
8 Niswaty (P)

Sulawesi Tenggara - 01
1 H. Yan Herizal, SE. (L)
2 La Mpasa, Drs (P)
3 Anaway Irianti (L)
4 Hawaera (P)
5 Suryadi (L)
6 Waode Hasriyanti (P)

Gorontalo - 01
1 Habib Fahmi Alaydrus, Drs., Psi., M.Ed. (L)
2 Suprisno Baderan (L)
3 Marleni Limonu, SP., M.Si. (P)
4 Asep Teguh Firmansyah, SKM (L)

Sulawesi Barat - 01
1 Said Saggaf, Drs (L)
2 Tajuddin Usman, S.Ag (L)
3 St. Aisyah Sinring, Ir. (P)
4 Supriyadi (L)

Maluku - 01
1 Abdul Aziz Arbi (L) Komisi III (A-283)
2 Gamar Wakano, SAg. (P)
3 Abdurrahman, SPd. (L)
4 Sumiyati T. Marwut, SE. (P)
5 Abdurrahman Makatita, Lc. (L)

Maluku Utara - 01
1 Kusnandar Prijadi Kusuma (L)
2 Muslim Abdullah, MA (L)
3 Achlana Bahmid (L)

Papua Barat - 01
1 Muammar Khadafi Bauw (L)
2 Ade Chalifah M. S.Sos.I (L)
3 Nurhaya Djafar, SPt (P)
4 Ir. M. Zain Wajo (L)

Papua - 01
1 H. M.K. Renwarin (L)
2 Aidil Heryana (L)
3 Erni O. Rumbekwan (P)
4 Fahmi Islam Jiwanto (L)
5 Rahadi Mantikno (L)
6 Bekti Nur Ayomi (P)
7 M. Muzakir Asso (L)
8 Tatik Nuryanti (P)
9 Sumini (P)
10 Andi Wahab (L)
11 Hasnah Askari (P)

Bukan Karena Kita Menang Pemilu (Saja) Maka Kita Memimpin

 

 

Bismillahirrahmanirrahim.Uhayyikum jamian bitahiyyatil islam

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Ikhwah sekalian

Alhamdulillah siang hari ini kita bertemu kembali, dan pada kesempatan ini saya akan mencoba share pada antum semua mengenai gagasan atau ide-ide besar di TPPN ini.

Ikhwah sekalian, saya ingin memulai–saya tidak memakai in focus karena saya mau menulis (di whiteboard)–ke persoalan inti kita sebagai harakah. Persoalan inti kita sebagai harakah ini ada dua (waktu kita mulai masuk ke demokrasi, bikin partai dan mau memimpin negara) :

1. Persoalan yang fundamental.

2. Persoalan yang bersifat teknis.

Persoalan yang fundamental itu adalah menyangkut masalah leverage to lead sedangkan persoalan yang menyangkut teknis itu adalah strategy to win.

Jadi yang masalah leverage to lead itu adalah menyangkut syurutul qiyadah (syarat-syarat kepemimpinan) yang dituntut kepada kita, atau kualitas-kualitas yang diperlukan jika kita ingin memimpin Negara. Sedangkan yang teknis itu adalah bagaimana memenangkan pemilu. Yang dua ini bisa berjalan seiring, bisa juga tidak. Contoh yang tidak seiring itu misalnya PKB : sempat punya presiden, tapi cuma bertahan 21 bulan, setelah itu selesai. Bisa disebut partai bisa juga tidak, tapi ICMI itu adalah satu kendaraan besar bagi Habibie, diluar golkar, tapi nyatanya Habibie cuma bertahan 18 bulan. Begitu juga PDIP, justru ketika terdzalimi suaranya naik 34%, ketika berkuasa suaranya menurun menjadi 19%.

Jadi bukan karena kita menang pemilu maka kita memimpin. Itu harus kita bedakan. Bukan karena kita menang pemilu maka kita memimpin, pemimpin itu adalah leverage.

Kenapa kita ingin memimpin, ikhwah sekalian?? Karena  insdustri kita ini (industri kita sebagai harakah) adalah sina’atul hayah -seperti yang sudah-sudah saya sampaikan sebelumnya. Saya tidak tahu, bukunya sudah diterjemahkan atau belum?? Ini penting antum baca buku ini, (live making, sina’atul hayah), bukunya Abu Ammar, Muhammad Al-Rasyid. Jadi, oleh karena itu kita mempunyai tugas merekonstruksi kembali kehidupan kita secara keseluruhan. Dan untuk menjalankan fungsi besar ini kita membutuhkan instrumen yang juga besar, instrumen itu namanya kekuasaan, negara. Kenapa kita butuh Negara ikhwah sekalian?? Karena sekarang kita hidup di era institusi, dan institusi yang paling besar di dunia ini -setidak-tidak dalam waktu 500 tahun terakhir ini- adalah Negara. Tidak ada organisasi paling besar selain negara dalam 500 tahun terakhir.Walaupun organisasi ini(Negara) dalam beberapa tahun ke depan, juga sedang menghadapi persoalan yang sangat eksistensial.

Saya menganjurkan –karena Antum yang banyak yang bisa bahasa Inggris disini-, membaca buku yang ditulis oleh Peter R. Gardner: “Managing The Next Society”, disini ada pembahasan yang menarik kaitannya dengan posisi yang namanya “Nation State”, Negara bangsa itu, dalam era globalisasi, sejauh mana akan survive dimasa mendatang; baik karena pengaruh perkembangan teknologi maupun karena pengaruh rasionalitas ekonomi. Jadi kita membutuhkan instrumen besar itu, kalau kita ingin memimpin. Sampai disini kita tidak punya perdebatan. Perdebatan kita adalah tentang kapasitas apa yang diperlukan untuk mengelola itu semua. Itulah kepemimpinan. Dan inilah yang kita inginkan. Oleh karena itu persoalan fundamental ini harus kita pisahkan dulu dari persoalan yang tekhnis, tentang bagaimana memenangkan pemilu. Sebab persoalan memenangkan pemilu itu mostly adalah persoalan komunikasi.,  Fi muhzamihi, ahya itu adalah pada masalah komunikasi.

Image waktu kita muncul pertama kali dengan membawa citra bahwa PKS itu adalah partai yang besih dan peduli pada rakyat. Di image ini terserap dan memberikan kita ruang yang besar di tengah masyarakat, tapi waktu kita masuk dalam pemerintahan kita tidak perform. Jadi strategy to win itu adalah persoalan how to send, tetapi persoalan Leverage to win itu adalah persoalan how to deliver bagaimana mendelivery ide-ide itu menjadi suatu kenyataan. Dan itu membutuhkan kualitas tertentu dari kita. Tidak sesederhana yang kita bayangkan.

Kalau antum lihat, ikhwah sekalian, dalam literatur-literatur ikhwan -saya ini senang buka ini karena antum orang kaderisasi-, setidak-tidaknya dalam 20 tahun terakhir ini, persoalan inilah yang tidak terbahas secara mendetil. Sebagian besar literature-literatur pemikiran politik ikhwan itu masih ada dilevel menyelesaikan terminologi. Kalau antum baca bukunya Yusuf Qordhowi tentang fiqh daulah itu semuanya menyelesaikan masalah persoalan-persoalan basic/mafahim: Apa sikap kita terhadap demokrasi. Apa posisi perempuan dalam percaturan politik. Apa sikap kita terhadap ta’addudul ahzab. System multi partai. Apa sikap kita tentang tahaluf (aliansi) politik, kita baru menyelesaikan perkara-perkara terminologi. Dan itupun perdebatannya panjang. Kalau antum lihat buku yang ditulis oleh DR. Abul Hamid Al-Ghazali, judulnya : “Asasiyat masyru al-islam” itu belum keluar dari kerangka itu semua.

Jadi harakah islamiyah secara keseluruhannya, belum keluar dari persoalan-persoalan fikriyah itu tadi, kepada persoalan-persoalan strategis. Persoalan-persoalan strategis dalam pengertian bagaimana kita perform sebagai sebuah eksistensi; baik sebagai harakah nanti maupun sebagai daulah. Itu yang belum terbahas.

Tapi disini ada bias besar dan ini harus kita waspadai dari awal. Bahwa instrumen Negara atau kekuasaan yang perlukan ini pada akhirnya tetaplah sebagai wasilah. Kenapa ikhwah sekalian? Karena kesejahteraan itu bukanlah tujuan. Keadilan itu juga bukanlah tujuan. Tetapi (keduanya adalah) sesuatu yang diperlukan oleh manusia, supaya naik ke level kebutuhan yang lebih spiritual, setelah persoalan-persoalan basic dia sebagai manusia selesai. Artinya ini apa? Manusia lebih kondusif secara spiritual untuk taat beragama ketika dia tidak lagi memikirkan persoalan fisik yang basic: persoalan makannya selesai, persoalan minumnya selesai, pakaiannya selesai, tempat tinggalnya selesai, kesehatannya selesai. Begitu ini semua selesai, pada umumnya, –sekalipun tidak selalu begitu,karena kadang-kadang dalam keadaan miskin orang lebih dekat kepada Tuhan–kebutuhan spiritual itu muncul lebih beragam, lebih natural munculnya. Nah oleh karena itu kita perlu menghilangkan hambatan-hambatan itu semua, yang disebut dengan mawaniut tadayyun, hambatan-hambatan seseorang untuk menjadi religius. Rasulullah saw mengatakan: “Kaadal faqru anyakuna kufran”. Jumlah orang miskin yang lari ke masjid dibanding yang lari jadi pengemis, jadi pelacur atau yang lari jadi perampok, lebih banyak yang mana?? Artinya (bila) manusia-manusia itu dalam kondisi fisik tertekan pilihan-pilihannya itu banyak, antara positif dan negatif, tetapi umumnya mereka itu lebih cenderung memilih yang negatif, karena efek keterpaksaan itu tadi. Tetapi ketika orang itu kaya, pilihannya juga sama banyaknya dengan orang yang miskin, pilihan positif dan negatif, tapi orang kan biasanya yang kaya kalau dia bergerak dari awal, katakanlah dia kaya diumur 50 tahun, pada waktu fikiran tentang kematian sudah bermunculan, terus menerus itu. Disitulah adilnya Tuhan, disitu adilnya Allah, kita dikasih itu, dia dikasih kekayaan last minute. Dia dikasih kesempatan untuk menyaksikan hasil kerjanya tetapi tidak dikasih kesempatan untuk menikmatinya.

Nah, oleh karena itu orang di tingkat seperti itu cenderung lebih spiritualis dengan sendirinya. Alam yang mengantarkan dia kesitu, begitu juga kita. Karena itu pemikiran itu harus lurus, supaya kita tidak bias, kita membutuhkan instrumen ini untuk menghilangkan seluruh mawaniut tadayyun dalam diri manusia.

Ada pembasahan tentang ini bagus antum baca di bukunya Abbas Mahmud Al-Aqod, tentang Abu Bakar As-Shiddiq, Abaqoriyatu Abu Bakar As-Shiddiq. Dibuku ini dibagian awal ada pembahasan tentang mawaniul islam, mengapa Abu Bakar itu berada dilevel nomor satu, dibahas dulu dengan pertanyaan terbalik. Apa sih hambatan orang itu untuk berislam? Apa hambatan orang berislam? Apa entry barrier orang berislam? Waktu dia bahas ini, dia jelaskan bahwa semua mawani’ ini, tidak ada dalam diri Abu Bakar, misalnya al-kibriya, itu tidak ada dalam diri Abu Bakar, dia berhasil melampaui itu semua.

Jadi fungsi kekuasaan yang kita cari ini adalah menghilangkan hambatan ini, itu persis juga dengan jihad fi sabilillah. Jadi ketika kita melakukan ekspansi pada suatu Negara, kita tidak ingin menundukkan orang dengan senjata, tetapi ingin menghilangkan mawaniu tadayyun yang salah satunya adalah at-thowagit. Thagut-thagut ini mencegah orang untuk beragama. Makanya rasul mengatakan: “Annasu ala diini mulukihim”. Jadi kalau para muluk ini dihilangkan maka mawaniu tadaayun itu hilang, orang diberi kebebasan. Jadi waktu kita menguasai satu wilayah, kita kooptasi satu wilayah, setelah kita menaklukkan pasukannya, tidak dengan sendirinya semua orang harus masuk islam. Itu tidak. Tujuan kita adalah menghilangkan mawaniul tadayyun, mawaniul  islam, apa hambatan orang kepada itu, kalau semuanya ini semua hilang, orang belum masuk islam juga, itu sudah bukan tanggung jawab kita. Baru saat itu kita bisa bilang “Ala hal balaghtu” iya kan..ini antum perhatikan.. ini clear yah..!!

Kalau ini selesai kita masuk pada persoalan leverage to win..

(Ada komentar: bukan masalah clearnya, tapi yang menjadi inhiraf itu apa?).

Dijawab : Masalah inhiraf itu terjadi di semua marhalah, bisa jadi karena pembelotan, misalnya begini: waktu kita berkuasa seperti itu, bisa jadi pembelokan, sebenarnya pembelokannya bisa dengan sederhana, waktu sarana menjadi tujuan, secara real itu tidak akan keluar dari itu semuanya, waktu kita mulai berfikir, bahwa kekuasaan ini adalah tujuan. Karena itu ukuran sukses kita adalah pertumbuhan ekonomi, tidak, itu ukuran sukses dipermukaan, tapi ukuran hakikinya sebarapa banyak orang menjadi beragama, dengan semua kesejahteraan itu.

Makanya saya menyebutkan waktu di cibubur, bahwa cita-cita kita itu ada tiga : satu politik, yang kedua dakwah yang ketiga peradaban. Yang politik ini adalah memecahkan rekor partai-partai islam, mendapatkan satu share politik yang berwibawa; 20 %.

Jadi, karena itu share kita secara dakwah, kalau ditahapan ini, ditingkat ideologi ini, jika kita sudah berhasil mengembangkan, menjadikan Islam ini menjadi pilihan publik, baru kita menang secara dakwah, dan itu dibuktikan dalam bentuk share partai-partai Islam secara keseluruhan. Bisakah sewaktu-waktu partai-partai islam itu share, menimal 60 %, digabung jadi satu, sekarangkan maksimum yang pernah ada dalam sejarah Indonesia, cuma 45%, turun-turun jadi 38 %. Jadi secara politik kita bisa menang, makanya saya debat waktu itu dengan mas Tamim, apakah PKS bisa lebih besar dari Masyumi..? Bukan. Persoalan kita bukan disitu.. Masyumi menang 20 %, benar, Nasir jadi perdana menteri jelas, tapi setelah itu masyumi kemana? Dan kenapa PNI yang masih punya pengikut yang lebih banyak? Dan kenapa PBB waktu mengklaim diri sebagai pewaris Masyumi ternyata, tetap saja akhirnya habis.

Jadi kita tidak bisa tentang angka-angka politik. Kita bicara tentang perimbangan kekuatan. Ini bukan angka tentang 20 %, tetapi ini persoalan tentang “Man yaqudu al-mantiqoh” (siapa yang memimpin Negara),  “man yaqudu daulah” (siapa yang memimpin negeri ini), siapa yang menggaet masyarakat secara keseluruhan. Kenapa ada banyak orang dinegeri ini, begitu PKS muncul, tiba-tiba mereka datang dengan; ide pancasila dan NKRI final, padahal keduanya juga tidak ada yang pertentangan dengan Islam. Tapi sesuatu yang harus kita fahami disini bahwa; ini ada pengaruh yang luar biasa, begitu substansialnya dalam mengarahkan dan membentuk idologi public. Ini celar yah?? Wadih.

Sekarang tentang reference to lead. Apa yang kita perlukan untuk memimpin? Reference apa yang kita perlukan? Sekarang saya mau ceritakan dulu sedikit, langkah realitas kita apa.

Kita ini jarang mempunyai kesadaran geografis. Tentang Indonesia. Orang pertama di negeri ini yang memberikan wawasan geografis dan juga kesadaran seperti namanya Gajah Mada. Kita baru punya satu kesadaran tentang satu eksistensi geografis yang namanya nusantara itu karena Gajah Mada. Tapi karena kita tidak membaca sesuatu tentang Gajah Mada umumnya kita tidak punya al-wa’yul geografi. Padahal unsur utama dalam peradaban itu adalah turab/tanah/wilayah/teritori. Ada bagusnya antum membaca buku yang ditulis oleh Malik bin Nabi, judulnya “Miladul mujtama” (Kelahiran sebuah masyarakat), dan yang kedua “Wijhatul alam islami”, setahu saya buku ini sudah diterjemahkan (Dunia baru islam). Unsur hardwarenya yang namanya peradaban itu tiga : al-ard/at-turab,wazzaman, wal insan, (tanah, waktu dan manusia). Quran ini kan software.

Kalau Antum lihat lagi dalam sejarah Indonesia. Waktu imperialis datang ke Indonesia. Perjuangan itu sifatnya kedaerahan. Zamannya Imam Bonjol, Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Cut Nya Dien, Pattimura dan seterusnya. Tapi kemudian muncul yang namanya kegelisahan politik, bahwa perlu ada pola baru dalam yang namanya perjuangan, yang menggabungkan kesadaran geografis ini dengan kesadaran politik, itulah namanya Budi Utomo dengan Syarekat Islam. Tetapi ini kemudian menjadi kesadaran yang konteknya lebih kuat lagi, setelah era Sumpah Pemuda. Sumpah pemuda kalau antum lihat : Satu Bangsa, Satu Bahasa dan Satu Tanah Air. Itu gabungan antara kesadaran geografis, kesadaran teritorial, kesadaran sosiologis, bahasa. Indoneisa ini kan punya 300 suku dan 300 bahasa. Dan dipilihnya Bahasa Indonesia itu sebagai bahasa, karena lebih sederhana dan lebih demokratis dibanding bahasa lain. Kenapa bukan Bahasa Jawa yang dipilih sebagai Bahasa Nasional.

Ada buku bagus yang boleh dibaca judulnya Collaps, disitu ada sedikit kisah tentang Polenesia “How China become Chinese” disitu, dipembahasan akhirnya ditulis tentang polenesia.

Jadi Sumpah Pemuda itukan menggerakkan, menyatakan diri sebagai satu kesatuan yang utuh tetapi kontennya juga dibuat; ada geografisnya, ada teritorinya, ada bahasanya, dan juga konten politiknya yang namanya bangsa. Jadi karena bobotnya itulah sumpah pemuda itu menjadi satu moment yang sangat historis dalam sejarah Indonesia. Sejarah pembentukan al-wa’yul wathani, dinegeri kita itu antum lihat proses sejarah itu begitu, karena itu jarak antara sumpah pemuda dengan tahun 45 itu begitu menjadi lebih dekat. Soekarno datang itu, diatas situasi yang sangat menguntungkan, karena dia melanjutkan proses itu. Tapi soekarno itu, punya kesadaran yang mendalam tentang teritori yang namanya Indonesia ini. Dan juga punya kesadaran tentang struktur sosiologis tentang masyarakat Indonesia. Kalau antum baca buku “Bung Karno Menyambung Lidah Rakyat”. Tsaqofah ini sudah harus antum miliki semuanya ikhwah sekalian. Supaya jangan ada yang mengatakan, bahwa PKS itu lebih hafal Sirah Nabawiyah daripada sejarah Negara Indonesia.

Soekarno menyadari yang namanya gagasan Megalomania dari Gajah Mada, dari gagasan yang namanya Nusantara itu, yang include sebenarnya Malaysia, Brunei dan Singapore. Itu satu kawasan, itu benar itu. Seharusnya kita berfirkirnya begitu, itu yang namanya wawasan teritori yang matang. Tapi kita ini umumnya itu tidak mempunyai kesadaran territorial yang bagus. Negeri ini ikhwah sekalian, penduduknya 230 juta sekarang, sama dengan total penduduk 22 negara arab kalau dikumpul jadi satu. Jumlah penduduk dunia zaman Rasulullah hidup, itu kurang dari setengahnya dari penduduk Indonesia hari ini.

Zaman Rasulullah hidup itu penduduk dunia 100 juta orang, total. Umat islam zaman Rasulullah itu yang masuk islam, yang ikut hajatul wada itu hanya 100 ribu, sekitar 125 ribu di Rahiqil Makhtum itu disebutkan, antara itu. Jadi satu permil. Jadi kalau antum memimpin 230 juta, antum bisa membayangkan, itu lebih besar dari dunia zaman Rasulullah hidup.

Kita tidak menyadari kadang-kadang. Dan ini Negara keempat terbesar di dunia, setelah Chna, India dan Amerika. Tiga Negara ini sekarang menjadi kekuatan ekonomi baru di dunia. Dan semua persyaratan yang dimiliki Indonesia ini, persyaratan untuk menjadi kekuatan ekonomi baru juga ada di negeri ini. Matahari ada gratis, tdiak semua Negara di dunia ini dapat jatah matahari sepanjang tahun, energi. Hujan, inilah lucunya Indonesia, bisa menyatu itu barang, air kan. Dan dua pertiga dari wilayah kita ini air. 6 juta KM2 negara Indonesia itu, 4 jutanya perairan. Dahsyat benar.

Jumlah manusianya, banyaknya ampun-ampun. Apalagi yang kita perlukan?? Sumber daya, semuanya ada. Jadi yang namanya syurutul hadlarah (syarat-syarat peradaban);  al-turab, wazzaman, wal insan, itu semuanya ada. A Power semuanya ada. Jadi kita tidak punya alasan untuk menjadi tidak sejahtera. dan di dunia islam, kita Negara Islam No 1. Tetapi inilah Negara islam terbesar yang selama ini tidak pernah menjadi “The big brother”.  Kita tidak pernah dianggap di dunia islam itu sebagai The big brother.

Malaysia sekarang, itu maksimum kemajuannya. Penduduknya cuma 20-26 juta, diputar-putar kaya apa pertumbuhan ekonominya, sudah skala maksimumnya seperti itu. Singapore skala maksimum, sudah segitu. Tidak akan lebih dari itu. Makanya Singapore sekarang ini, berusaha bersaing berinvestasi di negara-negara jiran sebanyak-banyaknya. Dia sudah berlebihan. Hanya dengan itu caranya kalau dia mau jadi besar. Tapi ini rentan, yang begini-begini rentan, jika ada perang bahaya, hilang itu semua barabg. Jadi potensi pertumbuhan Negara jiran itu demikian.

Tapi coba antum lihat cina, semuanya juga ada disana. India semuanya juga ada disana. Itulah bedanya Singapore kan, bedanya antara mini market dan hypermarket. Sebanyak-banyaknya pengunjung mini market, ya tetap saja mini market. Ini masalahnya hypermarketnya yang sepi.

Jadi kita musti faham dulu Negara yang kita mau pimpin ini adalah Negara yang sangat besar, Negara benua. Jadi kita yang ditakdirkan hidup di negara ini sebenarnya, itu sama saja- kalau kita merujuk pada la yukallifullahu nafsan illa wus’aha-, mafhum mukhalafahnya itu kan adalah bahwa semua beban yang diberikan kepada kita, itu artinya kita punya kemampuan untuk memikulnya. Makanya teori sejarah itu ada yang namanya teori “at-tahaddi wal istijabahchallenge anda respon. Sumber dinamika sejarah itu dari situ, dan Allah memberikan kita itu, challenge (tantangan). Karena, itu diperlukan untuk menghidupkan adrenalin. Tapi Allah tidak memberikan tantangan kepada kita melebihi kemampuan yang kita miliki, dibikin impas. Allah tidak kasih kita roti langsung. Dikasih tanah, dikasih air, kita tanam. Coba kalau kita disuruh menciptakan tanah, itu diluar kemampuan kita. Disuruh menurunkan hujan, diluar kemampuan kita, kita bisa bikin irigasi. Tapi kalau hujan tidak turun sama sekali, kan irigasinya kering juga. Jadi ada hal-hal yang diselesaikan oleh Allah sendiri. Tapi ada hal-hal yang disisakan untuk kita. Yang disisakan itu, diberikan, dibebankan sesuai dengan kemampuan akal kita untuk menyelesaikannya. Disitulah nilai at-tahaddi, tantangannya, challengenya. Karena sesuai dengan kemampuannya. Nah, kalau kita hidup di negara sebesar Indonesia ini artinya kita semua mempunyai kemampuan di dalam diri kita baik sebagai individu maupun sebagai bangsa dan termasuk juga sebagai harakah bahwa kita bisa memimpin negeri yang besar ini. Kenapa tidak ditakdirkan hidup di dubai?? Dikasih yang besar sekalian, tapi supaya punya pikiran ini dulu..!! Fikiran sebagai bangsa besar, fikrian sebagai penduduk yang berasal dari sebuah negara besar. Itu dulu. Teritorialnya besar, sumber dayanya besar. Karena itu diperlukan pemimpn besar. Dan itu belum pernah ada di negeri ini.

Inilah sebuah pendahuluan dan setelah kita itu baru kita masuk ke persoalan setelah kita memahami realitas ktia…

Setelah kita merdeka, ikhwah sekalian. Dimasa Soekarno, dan Soekarno datang dengan isu revolusi itu. Kita menghabiskan waktu 20 tahun pertama untuk konflik ideology. Antum lihat sejarah Soekarno itu adalah sejarah konflik. Sebagian dari konflik itu berujung darah. Konflik segitiga antara islam, nasionalis dan komunis, semuanya menggunakan kekerasan pada akhirnya. wujud politk islam itu ada pada Masyumi tapi wujud tentaranya, kekerasaannya ada pada DI. Di komunis, pada mulanya perjuangan ideology, kebudayaan dan seterusnya, tapi ujungnya juga menggunakan pendekatan kekerasan. Makanya melakukan beberapa kali kudeta yang terkahir terjadi di madiun pada tahun 65. Satu polanya gerilya, satu polanya kudeta militer. Tapi kaum nasionalis yang kemudian menang, diwakili tentaara. Tapi ujungnya antum lihat, sejarah kita itu, 20 tahun pertama itu sejarahnya konflik. Berdarah-darah 20 tahun pertama.

Kita tidak tahu berapa orang yang dibunuh oleh komunis dan berapa orang komunis yang dibunuh oleh Orde Baru. Sama juga bedapa banyak DI yang dibunuh oleh tentara Orde Baru, dan berapa banyak tentara Indonesia yang dibunuh oleh DI. Tetapi faktanya kita hari ini, satu tanah bangsa, satu tanah air dan satu bahasa, tapi (konflik) 20 tahun pertama. Ini adalah era dimana ada demokrasi tetapi tidak ada kesejahteraan. Karena itu collaps.

Orde Baru datang dan membuat penyederhanaan, konflik ini kita akhiri, tidak ada konflik ideologi, tidak ada politik, kita butuh stabilitas, karena itu tentara diperkuat partai-partai disederhanakan, pembangunan kita lakukan, investasi luar kita datangkan, masyarakat kita didik, semua yang beraliran digabung jadi satu. PPP, islam, simbolnya satu. Yang kiri-kiri dan PKI, (nasionalnya) digabung menjadi satu PDI. Nah, baru dimunculkan alternative ketiga namanya GOLKAR, tidak disebut partai karya, disebut golongan karya artinya jamaatul amal. Inikan, yang lain kerjanya bertengkar, kita bekerja.

Tapi ternyata itu ikhwah sekalian.

30 tahun kemudian, diatas semua kebaikan Orde Baru kepada kita. Kita inikan produk Orde Baru semua, Saya lahir tahun 68, pas awal tahun Orde Baru membangun. Kita yang menikmati semua pendidikan yang baik yang tidak ada pada Orde Lama. Setelah kita menikmati semua kebaikan Orde Baru ini. Orde Baru ini kita akhiri. Karena Orde ini memberikan kita kesejahteraan tapi tidak memberikan kita kebebasan. Padahal kebebasan dan kesejahteraan, itu dua-duanya adalah hajat manusia. Jadi Orde Baru itu adalah era kesejahteraan tanpa demokrasi. Dan sekarang Malasyisa sedang menghadapi ini, pada beberapa waktu ke depan Malaysia akan masuk era 97 nya Indonesia.

Kita perlu bebas bicara, sama persis kita juga perlu makan. Sama persis 10 tahun setelah reformasi. Seteleh kita sangat bebas bicara ternyata makan kita tidak terlalu bagus. Makanya dalam survey kemudian menyatakan, ternyata masyarakat lebih memilih Soeharto dan merupakan presiden yang paling disukai dari semua presiden. Yang kedua soekarno. Makanya kalau reformasi ini tidak merupakan kesinambungan pada periode-periode sebelumnya. Maka reformasi ini pasti gagal, collaps, kita sebagai masyarakat bisa collaps, sebagai negara juga bisa collaps.

Kenapa ikhwah sekalian? Karena kalau ini sustainable secara historis, seharusnya reformasi itu bukanlah antitesa terhadap Orde Baru, Sebab kesejahteraan pada Orde Baru itu tidak perlu kita hapus, yang kita mau hapus itu adalah dictatorshipnya. Dan itu sudah kita lakukan, dengan megeluarkan tentara dari percaturan politik. Pilar-pilar utama yang menyangga Orde Baru waktu itu kan ada tiga; Tentara, Golkar, Konglomerat. Di politisi sama birokrat kita masukan disini, di Golkar, karena politisi dan golkar itu satu paket. Tapi sekarang coba antum lihat.. !! Tentara sudah dikeluarkan dari percaturan Negara, Orde Baru hancur dan pilar-pillarnya kita gerogoti. Dan Golkar dari 76% suaranya pada tahun 97 (pemilu pada tahun 97) suara itu turun menjadi 20 %, pada tahun 99 terdiskon langsung kekuatannya. Sekarang senaik-naiknya dia tidak akan lebih dari 30, itupun rasanya tidak akan naik dari 25 ditahun 2009 nanti.

Diskonnya, karena tentara sudah tereliminasi, keluar dari percaturan politik. Tapi pengusaha. 10 tahun terakhir ini, ada ga pengusaha yang lahir diluar dari pengusaha yang sudah eksis?. Kita memang bisa mengganggu eksistensi para konglemarat Orde Baru. Semuanya bisa kita ganggu. Tapi faktanya sebagaimana yang pelajari dalam kaidah dakwah itu “Alhadamu daiman ashalu minal bina” (menghancurkan itu selalu lebih mudah daripada membangun). Orde Baru pergi, tapi para jaringan konglomeratnya ternyata tidak pergi-pergi. Dia menguasai panggungnya sendiri. Dan tidak ada panggung baru dipanggung itu, Tidak ada dari daftar yang kaya di indonseia ini, ada yang keluar dari daftar yang kaya sebelum-seblumnya?? Kan itu-itu juga kan. Bakrie besar dimana?, Arifin Panigoro, Jarum, Sampoena, Salim semuanya besar di Orde Baru. pasar itu adalah teritori sendiri.

Jadi sementara TNI terdemorelisasi begitu dahsyat, Golkar terdiskon begitu besar. Pasar, itu tidak terdistorsi sama sekali. Dan 10 tahun setelah era reformasi ini, ga ada perubahan. Tetapi yang menarik dari era reformasi ini adalah system politik. Inilah sisi yang kita ambil dari Orde Lama, demokraasinya. Tapi dari sisi kesejahteraan yang belum kita ambil dari Orde Baru. Seharusnya era ini adalah era sintesa, antara Orde Lama dan Orde Baru, kita membutuhkan kebebasan. Tetapi seperti kata Thomas Jefferson : “Demokrasi itu memuaskan hati masyarakat tapi tidak menyelesaikan persoalan mereka”. Karena itu cita-cita persoalan Indonesia ke depan adalah persoalan menemukan titik equilibrium maksimum, titik keseimbangan maksimum antara demokrasi dan kesejahteraan. Itu persoalan Indonesia ke depan. Nah sekarang didalam situasi peta seperti ini ada tiga panggung yang eksis sekarang. Panggung utama ini yang sering saya sebut dengan segi tiga kekuasaan: Yang satu namanya Negara. Yang satu lagi namanya civil society, (dan) yang satu lagi namanya pasar atau market.

Jadi ikhwah sekalian…

Negara ini, tidak lagi berdiri sendiri, walaupun ia adalah organisasi terbesar yang mengatur ini (civil society) dan mengatur ini (market). Tapi otoritasnya itu dan kapasitasnya tidak selalu besar. Karena pasar ini juga tidak berdiri sendiri.

Lebih berkuasa mana dalam mengatur pasar, Negara RI dalam hal ini menteri keuangan atau WTO?? WTO. Jadi ada organisasi diatas Negara, yang mengatur Negara-negara itu. Begitu juga civil society. Pada akhir 90-an. Setiap tahunnya ada 3 milyar orang yang naik pesawat dalam catatan Newsweek. Sekarang kan lebih banyak. Apalagi di era tranportasi murah sekarang itu, Sekarang lebih banyak orang. Artinya apa? Ini artinya antum setuju atau tidak ini adalah era borderless terri. Gak ada lagi batasan dari segi jarak. Tapi telekomunikasi itu menghilangkan jarak waktu. dan 5 atau 10 tahun yang akan datang, tren telekomunikasi itu nanti, ikhwah sekalian..!! Ini menurut ahlinya, saya konsultasi dan ngobrol-ngobrol; nanti pembicaraan lokal dan internasioanal itu akan sama. dan provider telekomunikasi, perusahaan seluler sekarang itu akan mulai turun. Sama semuanya itu. Sekarang sudah mulai sebenarnya. Jadi antum bisa membayangkan negara tidak bisa membatasi lagi orang saling berkomunikasi. Pelan-pelan nanti transaksi-transaksi pasar itu seluruhnya akan dilakukan melalui internet. Dan sekarang bagaimana caranya pemerintah mengambil pajak dari transaksi di internet.

Civil society, itu artinya apa ikhwah sekalian.. Ada kejadian-kejadian kecil yang terjadi disini itu kedengaran secara global, contohnya pembunuhan Munir, bunyi suaranya sampai ke PBB, sampai ke Kongres Amerika itu. Capee.. aja pemerintah menjawab pertanyaan. Itu civil society..

Oleh karena itu ikhwah sekalian, jika kita hanya tumbuh kesini (Negara), tidak menguasai ini dengan baik (civil society) atau tidak menguasai ini dengan baik (market) kita tidak bisa mengendalikan hidup. Inilah tiga distribusi kekuasaan utama, tiga kekuatan utama di Negara kita. Bagaimana kekuatan pengaruh antara masing-masing ini? Itu tergantung dari satu tempat ke tempat yang lain, dan dari satu periode ke periode yang lain.

Waktu di TPPN ada yang mempertentangkan DR. shohibul iman tentang, ya kalau kita baca teori Soros, market memang lebih berdaya dari pada Negara. Tapi kalau kita baca teori yang lain negara kan regulator. Tapi kuatnya atau tidaknya negara itu tergantung siapa yang punya asset paling banyak. Iya kan…?! Jadi kita tidak bisa mengatakan mana lebih kuat market atau Negara…?! Ada waktu tertentu Negara lebih kuat, dan ada waktu tertentu ini (market) lebih kuat, ganti-gantian aja itu. Tetapi kalau kita ingin berkuasa kita mesti punya share kekuatan pada tiga komponen ini. Oleh karena itu PKS harus ada disini (ditengah). Distribusi kekuatan kita itu harus ada di tiga kekuatan ini. Kalau Cuma disini (negara) sedikit. Disini itu (negara), pelaku utamanya ada tiga ; Politisi, Birokrat dan Militer. Disini (civil society) pelaku utamanya kita sebut dengan informal leader. Informal leader itu bermacam-macam; budayawan, artis. Antum  suka atau tidak suka artis itu informal leader. Suka atau tidak suka itu. Dia datang orang ikut. Antum boleh punya janggut sepanjang-pangjangnya, sesoleh-solehnya itu belum tentu informal leader, tapi artis, suka atau tidak suka informal leader, dia datang orang datang, dia goyang orang goyang. Jangankan itu Presiden pun ikut bikin lagu pula itu, ya ikut jadi artis lah. Setelah gagal jadi negarawan. Ini era bintang. Pemain bola jadi bintang.

Disini (civil) ada media sebagai infrastruktur yang paling kuat. Terutama TV. Pimpinan ormas itu informal leader. Ada masanya sendiri, pemikir, akademisi, pimpinan kampus dan seterusnya itu informal leader. Orang-orang yang punya pengaruh di tengah masyarakat, kita sebut sebagai informal leader. Dia berpengaruh karena kapasitas pribadinya tanpa struktur, baik karena intelektualitas maupun karena spiritualitasnya. Jadi dia mungkin pemimpin spiritual, dia juga mungkin pemikir, Trand setter dalam pemikiran-pemikirannya, tapi dia juga mungkin selebriti. Makanya kalau demikian banyak para selebriti yang masuk politik memang gampang. Itu termasuk salah satu jalur cepat, tanpa harus bikin partai. Kalau di Amerika kan banyak contohnya; Ronald Reagan, Arnold Schwarzeneger. Yang di DPR kan banyak ; Ada Dede yusuf ada Ajie Massaid, Angelina Sondakh, ada Igo Ilham di DPRD.

Disini (market) pelaku utamanya kita sebut sebagai pengusaha, orang businessman. Jadi kalau kita bicara tentang leverage to lead kita bicara tentang distribusi ini.

Ikhwah sekalian..

Pertanyaan bodohnya begini, kalau orang yang kita bawa kesini (negara) adalah mahasiswa yang kita rekrut sejak SMP, kita tarbiyah..tarbiyah..tarbiyah…sekarang kita kapitalisasi masuk ke dewan. Jadi politisi dia. Ada Rama Pratama, Andi Ramco, Fahri Hamzah, Mustafa Kamal,. semuanya masuk disini. Ada Abu Bakar yang waktu direkrut sejak masih pakai celana pendek, sekarang masuk menjadi anggota DPR, masuk di panggung negara. Tapi kalau ada ikhwah, mahasiswa yang kita rekrut menjadi pengusaha sejak dia tidak kenal duit saat belajar dagang hingga menjadi pengusaha sukses, kira-kira berapa tahun untuk mencapai level ini…??? Keluarga Salim itu baru bisa menjadi konglomerat setelah 120 tahun bisnis keluarga itu berlangsung. Itu tidak gampang. Sampurna itu menjual seluruh sahamnya itu setelah 50 tahun keluarga itu bekerja total uang keluarga semuanya 2 milyar dollar (18 trilyun). Itu setelah lebih dari 50 tahun. Nah sekarang, disini (market) kita kosong kan?!, kita punya Dep-Tan, tapi kita tidak punya pengusaha Agri bisnis, makanya kita kerjasama dengan pengusaha agribisnis, yah kecil-kecil jadi calo lah. Gak apa-apa ini baru tahap pertama. Jadi broker dulu lah. Sekarang kalu antum membina informal leader, trend setter disini.

Berapa jumlah pesantren kita? Ada al-kahfi.

Berapa jumlah selebriti kita? Ini masalahnya selebriti kita rekrut berhenti jadi selebriti.

Saya ngobrol panjang dengan Dedi Mizwar. Dia bilang, Saya susah juga. Karena Saya kerja sendiri. Tiap tahun Saya hanya bisa memproduksi maksimum dua seri, dua serial. Maksimum. Memang sih meledak. Tapi sepanjang tahun kan, akhirnya yang mengisinya Raam Punjabi. Jadi -dia bilang- sekarang Saya sedang berfikir bagaimana membuat training-training, workshop untuk para calon-calon selebriti. Dia mulai beli tanah, padepokan dan lain-lain. Dalam pelatihan sambil kita didik moral mereka, supaya menjadi selebriti yang bermoral dimasa yang akan datang.

Dan kita kan belum punya investasi disitu sampai sekarang. Jadi antum lihat. Kunci-kunci pengendalian sosial itu tidak kita miliki. Sekarang antum bandingkan. Ada 12 channel televisi di Indonesia, semuanya punya jam tayang 24 jam, kalau satu program itu minimunnya ½ jam, untuk satu program TV, berarti kan setiap hari harus mempunyai 48 program. Satu TV dikali dalam satu tahun 365 hari, dikali 12 channel TV (1X365X12). Jadi berapa program yang harus tersedia??

Jadi waktu kita mentarbiyah ikhwah kita semuanya, 2 jam dalam halaqoh itu, setelah itu dia pulang, dia menonton TV berjam-jam. Setelah kita doktrin semuanya, dia nonton TV. Dicuci lagi tuh. Kita mentarbiyah supaya menjadi pemuda yang tangguh, setelah itu kita suruh dia untuk kawin. Begitu dia kawin dan beranak pinak. Dia sibuk, anaknya diurus oleh televisi. Diurus oleh internet. Dan ini masuk ke rumah kita semua. Dan sekarang, kita tidak memasukannya lagi dalam wasail ghozwul fikri. – tidak tahu masih ada di materi kita ini. Ini sekarang masuk wasail tarbiyah atau wasail ghazwul fikri-.

Jadi ini yang Saya sebut dengan landscape sosial kita itu. Masyarakat itu dikendalikan oleh orang-orang, oleh figur-figur Ini, Informal leader.

Disini –pasar- di drive oleh pengusaha. Masing-masing semua menjadi raja. Dan disini tujuannya. Share tiga-tiganya. Politisi boleh punya presiden. Boleh jadi presiden. Boleh jadi wakil presiden. Boleh jadi menteri. Tapi eselon satu kebawah.. Nah itu birokrat. Begitu ada baru menteri datang. Birokrat langsung lihat, ini high capacity atau under capacity. Begitu under capacity dia dipimpin oleh birokratnya.

Tentara, memang tidak berpolitik. Tapi dia bisa mempengaruhi seluruh jalannya politik. Makanya semua calon-calon presiden tahun 2009, -coba antum lihat- banyakannya dari tentara kan. Memang sudah di eleminasi, tapi dia tidak hilang. Keluar dari permainan tapi dia bisa masuk dalam baju yang lain. Sekarang SBY punya kebijakan, di semua pilkada mesti ada satu dari gubernur atau wakil gubernur, walikota atau wakil walikota, bupati atau wakil bupati dari tentara. Kebijakan SBY, supaya bisa eksis lagi, bisa menang lagi pada 2009 nanti. Makanya jawa barat sampai sekarang gak putus-putus, karena factor itu, jadi tiga panggung ini sekarang kita ada sedikit disini, sedikit politisinya sedikit birokratnya, belum punya leader.

Berapa share kita di negeri ini? Kecil kan.

Tapi kan kita mau memimpin ini negeri. Jadi persoalan PKS sekarang adalah bagaimana menjadi leading party. Bagaimana kita menjadi partai pemimpin. Sekarang kita baru tahu. Kalau kita memimpin apakah kita perlu memiliki semua??

Soeharto disaat terakhir. Waktu dia terpilih lagi menjadi presiden tahun 97. Kan semua timnya itu shohibnya semuanya. Bob Hasan yang tadinya pengusaha masuk menjadi menteri. Anaknya sendiri masuk jadi menteri. Semua orang dekatnya menjadi menteri. Panglimanya Wiranto. Dibawahnya ada Prabowo. Semuanya. Geng besarnya masuk semua itu. Tapi waktu semua geng besarnya masuk semuanya dia jatuh. Sekarang coba antum fikir-fikir dulu. Kalau kita mau mengembangkan kapasitas kita, leadership capacity kita itu.

Jadi tadi kita sudah sampai pada pembahasan distribusi kekuasaan. Cara yang harus PKS kalau mau memimpin. Yaitu mempunyai share yang besar pada tiga panggung utama itu (State, Civil society dan Market).

Secara sederhana, kita sebagai gerakan itu kalau ingin punya kendali kira-kira aset-aset utama kita itu adalah ini. Kita kembali lagi pada gambar segitiga ini; Ide, Orang dan Uang.

Sekarang, -kalau antum lihat- reformasi ini kenapa mengalami stagnasi? karena tidak ada ide besar disini. Tidak ada satu kekuatan yang sangat berkuasa. Karena tidak ada yang punya orang sebanyak yang diperlukan, dengan kapasitas yang diperlukan. Begitu juga uang terdistribusi secara tidak pasti dan tidak merata. Jadi tidak ada orang yang punya tiga-tiganya sekaligus. Tidak ada kelompok yang punya tiga-tiganya sekaligus. Makin besar kepemilikan kita pada tiga ini, maka makin besar share kita dalam kepemimpinan.

Jadi, kalau Gajah Mada kenapa dia legendaries di negeri ini kita, karena dia datang dengan satu ide besar tentang Nusantara. Soekarno, juga datang dengan ide besar namanya Revolusi. Soeharto datang dengan ide besar namanya Pembangunan. Kita datang dengan ide besar namanya apa??

Saya sudah jelaskan pada pertemuan yang lalu bahwa ide besar itu adalah masalah ruang (dairatul mumkinat). Semua yang menjadi mungkin dalam ruang pemikiran kita, menjadi mungkin dalam realtitas. Jadi kalau di dalam ruang pemikran itu sesuatu tidak mungkin, lebih tidak mungkin lagi dalam ruang realitas. Nah, makanya makin besar ide seseorang, makin besar ruang realitasnya juga. Seperti ketika Imam Syahid menjelaskan tahapan-tahapan dakwah, yang terakhir adalah ustadziyyatul alam. Pada waktu dia masih dijajah, masih di bawah penjajahan Inggris. Jadi kalau pada saat itu saja, dia memiliki cita-cita besar seperti itu. itulah yang menjelaskan kenapa ikhwan masih hidup (eksis) sampai sekarang. Idenya itu melampaui zamannya. Sewaktu-waktu kalau khilafah ini tegak orang akan kembali mengenang idenya itu.

Bandingkan Hasan Al-Banna dengan pemikir sebelumnya, misalnya diatas beliau itu ada Rasyid Ridha yang sempat berinteraksi, diatasnya lagi ada Muhammad Abduh, diatasnya lagi Jamaluddin Al-Afghani, dan yang se zaman dengan Jamaludin Al-Afghani tapi beda tempat; Abdurrahman Al-Kawakibi. Abdurrahman al-kawakibi itu punya buku yang namanya tobai’ul istibdad (karakter kediktatoran). Dia mendefinisikan penyakit umat islam cuma satu yang namanya kediktatoran.

Al-Afghani menyebutkan bahwa dia setuju dengan premis al-kawakibi. Dan karena itu solusinya adalah perlu ada gerakan politik. Makanya Pan islamisme idenya. Itu akhir abad ke 19. Ide Pan islamisme itu adalah ide dari Al-Afghani. ide ini terlalu besar, tapi tidak -kalau istilah orang-orang manajemen sekarang ini-, diketahui cara mengeluarkan ide-ide secara nyata. Karena itu orang-orang dalam manajemen itu -antumkan belajar planning-, yang jauh lebih penting dari planning itu adalah menyusun strategi. Memformulaasi strategi adalah mengetahui dengan pasti How to execute, bagaimana mengeksekusinya. Makanya ide-ide itu adalah ide yang tidak bisa di eksekusi, karena tidak ada penjelasan bring down-nya. Tidak ada sterategi untuk membuatnya jadi nyata. Antum lihat ruang kemungkinannya cuma satu disitu.

Muhammad Abduh datang dengan ide yang lebih aplikatif. Ide tentang pendidikan. Karena itu iconnya Abduh itu adalah islah. Dan islah itu dimulai dari pendidikan, makanya buku besarnya adalah kitabuttauhid. yaitu pembersihan masyarakat.

Rasyid RIdha melanjutkan ide. Dan karena itu dimelanjutkan perlunya pemahaman ulang  tajdid  dalam pemahaman kepada Islam.

Hasan Al-Banna ada diurutan, merupakan satu kesinambungan dari sini. Makanya konsepnya tarbiyah, tetapi itu tidak cukup. Itu adalah sarananya. Diperlukan wadah yang lebih besar namanya organisasi. Makanya ide utama dari Hasan Al-Banna itu adalah ide tentang tarbiyah dan yang kedua ide tentang organisasi. Tarbiyah itu adalah reformulasi individu, rekonstruksi individu, jamaah itu adalah kanang, wadah untuk menyalurkan potensi yang sudah terbentuk. Kalau tidak ada itu tidak ada yang bisa bekerja, oleh karena itu pemikiran tentang organisasi ini adalah pemikiran yang mendahului zamannya.

Teori-teori tentang manajemen yang lahir tahun 50an keatas, setelah perang dunia kedua, itu semuanya membenarkan. Menjelaskan pentingnya, terutama kalau antum bacanya buku Peter L Gardnerd, pentingnya bekerja di dalam dan melalui organisasi. Karena kita tidak bisa bekerja sendiri. Inilah zaman dimana manusia tidak sebanyak seperti sekarang. Jumlah manusia ini terlalu banyak dan karena itu kita menyediakan dan selalu bekerja didalam dan melalui organisasi. Itu idenya. Karena ide ini besar, lebih besar lebih besar dari ide selanjutnya, makanya lebih lama beratahannya. Tapi ide Hasan Al-Banna bukan sekedar ustadziyatul alam, bukan sekedar Pan Islamisme, idenya lebih besar dari itu. Dia melammpaui wilayah geografi dunia Islam. Makanya di kelompok dunia Islam idenya itu adalah tahrirul wathan islami setelah islahud daulah.

Selesaikan persoalan internal di dunia Islam. Kita sudah bebas dari penjajahan. Kita sudah melaksanakan konsolidasi. Tugas kita yang terakhir adalah ustadziyatul alam. Idenya lebih besar, karena itu ruang kemungkinan ikhwan lebih besar. Karena itu ruang realitasnya juga lebih besar. Tidak ada organisasi yang bertahan se lama ikhwan di dunia Islam. Dan antum lihat sejak periode itu..!! Karena idenya sangat besar, semua ide-ide kecil yang datang kemudian, mengisi ide-ide yang besar itu. Berapa banyak buku yang ditulis tentang satu judul yang namanya tarbiyah. Berapa banyak buku yang ditulis tentang fiqh dakwah. Berapa banyak buku yang ditulis tentang idarat tandzim, idaratul jamaah, idarat dakwah. Berapa banyak buku yang ditulis tentang konsep ideology. Berapa banyak buku yang ditulis tentang fiqh daulah, sejak Abdul Qadir Al-Audah sampai Yusuf al-Qadhawi sekarang.

Ide besar ini, merangkum ide-ide kecil, sub-sub yang ada didalamnya. Karena ruangnya besar maka ruang realitasnya juga besar. Punya struktur di 70 negara. Dengan sumber daya yang sangat terbatas. Apa yang membuatnya jadi mungkin?? Ide…

Dia datang waktu umat Islam itu kosong. Makanya perpustakaan dunia Islam, yang mengisi, semua penulis ikhwan. Semua buku yang terbit di adab 20, di dunia Islam antum perhatikan, yang terkait dengan pemikiran keislaman, pemikiran pergerakan, pemikiran tentang dunia Islam itu sebagian besarnya adalah pemikir ikhwan. Antum lihat perpustakaan. Itu ide. Dia punya ide dan dia menciptakn orang. Uang datang kemudian.

ikhwan-ikhwan sekalian…

Semua actor ikhwan itu miskin semuanya. Tapi bisa bikin liqoat alamiyah. Miskin tapi bolak balik luar negeri. Makanya Saya tidak pernah percaya bahwa uang itu warisan. Bukan. Yang saya percaya uang itu adalah produk ide dan orang. Makin besar idenya makin besar juga uangnya. Tapi kalau kita tidak punya ini (uang dan orang), tidak ada ide yang jadi realitas.

 

Jadi kalau kita jadi leading party ini:

1. Kita harus punya yang namanya narasi.

2. Kita harus punya yang namanya kapasitas.

3. Kita harus punya yang namanya sumber daya.

Apa ide yang kita tawarkan untuk itu?

Jadi sekarang kita tidak lagi berfikir tentang sekedar bagaimana membesarkan PKS tetapi bagaimana membesarkan bangsa. Setelah itu kita berfikir ke level lebih tinggi bagaimana bangsa Indonesia punya kontribusi ke dunia. Begitu kita punya ide, punya narasi yang kita tawarkan kepada public. Kita akan menjadi leader. Makanya kapasitas pertama dari seorang leader itu adalah naratif intelijen. Kemampuan menguasai orang melalui kata. Itulah yang menjelaskan kenapa soekarno masih bertahan sampai sekarang. Dan itu juga yang menjelaskan kenapa mukjizat Rasulullah saw itu adalah kata. Al-Quran. Antum sekarang bisa bayangkan waktu Rasulullah saw hidup perbandingan orang Islam itu 1:1000. 100 ribu orang hidup ditengah 100 juta orang di seluruh dunia.

Sekarang perbandingan satu umat Islam dengan non muslim 1:5. Dari mana coba datanya ini? pemimpinnya sudah mati. Tapi terus tumbuh. Jadi kalau sewaktu-waktu Rasulullah mengatakan; “Bahkan ketika kalian punya dua emas sebesar dua gunung Uhud infak kalian tidak bisa melampaui pahala para sahabat”. Ya jelas. Semua yang masuk Islam sesudah mereka kan, mereka dapat pahala. Sekarang ketika jumlah umat manusia hampir 5 milyar lebih hampir 6 milyar. Antum bisa bayangkan. Kata, Mukjizat. Ada yang masuk Islam melalui ekspansi. Ada yang karena kesadaran sendiri, ketemu di jalan atau macam-macam.

Nah, itu kapasitas utamanya seorang leader; naratif intelijen. Sekarang ini PKS itu, bedanya periode yang lalu dan yang sekarang adalah periode yang lalu itu I can see, seksi aja dimata orang, kelihatannya itu. Ada anak-anak muda bersih dan peduli. Tapi begitu kita ingin menjadi leader, expectasi orang berubah. Kita tidak lagi dipersepsi sebagai partai mahasiswa. Kemarin kita dipersepsi sebagai anak manis. Kumpulan anak-anak manis negeri ini. Berkumpul jadi satu, dinamis, pinter-pinter, baik-baik. Tapi untuk jadi leader? Enggak..

Nah sekarang ketika ingin naik kesana persepsi kita harus dirubah..! persepsi tentang kompetensi. Makanya di tim media sekarang mereka merumuskan. Kata kunci itu, headline kita itu; “Bersih, Peduli, Terbuka, Kompeten”.

Inikan (bersih peduli) merupakan integritasnya, dan ini (kompeten) menyangkut masalah kapasitas, sedangkan ini (terbuka) adalah imagenya. Maksudnya kita diterima disemua pihak. Ini namanya (kompeten) what to say-nya bukan how to say-nya. Bagaimana cara mengatakannya itu lain lagi. Tapi ini empat point intinya ini.

Kapasitas pertama yang harus kita miliki adalah naratif intelijen. Makanya para pemimpin itu kalau mau punya naratif intelijen; dia harus seorang penulis dia harus orang orator. Mutlak. Tidak bisa tidak. Jadi salah satu training penting buat antum disini adalah publik speaking dan menulis. Itu maharat aqliyyah.

Ada buku yang bagus antum baca dari “kumpulan pidato-pidato yang paling berpengaruh sepanjang abad ke 20”. Saya dulu pernah membuat riset kecil tapi tidak berlanjut, pidato-pidato yang paling berpeluang sepanjang sejarah Islam. Itu menarik sekali. Ada pidato politik. Pidato ilmiyah dan juga ada pidato perang. Kalau antum lihat Khalid bin Walid itu bukan sekedar jago bertarung, tapi juga orator. Contohnya; Diperang Yarmuk, dia kan tadinya ada di Irak, jumlah pasukan yang sudah masuk di Yarmuk itu sekitar 27 ribu, berhadapan dengan 240 ribu pasukan Romawi, ini berbulan-bulan lamanya pasukan saling berhadap-hadapan tapi tidak saling bertempur. Periodenya Abu Bakar.

Khalid waktu itu ada di Irak, setelah Abu Bakar meninggal ini soal komandan lapangan, kenapa tidak bertempur. Artinya begini. Yang 240 ribu ini tidak berani menyerang yang 27 ribu ini. Alasannya, memang (pasukannya) kecil tapi pengalaman menangnya terlalu banyak. Yang ini (pasukan Islam), memang pengalaman menangnya banyak tapi belum pernah bertemu pasukan sebanyak ini.

Khalid datang dan pasukan Khalid dipanggil dan ditambah lagi pasukan sebanyak 9 ribu orang sehingga menjadi 36 ribu ini. Waktu Khalid datang wacananya sama seperti Abu Bakar. Cuma dalam sekologi militer. (Ada buku bagus yang bagus juga antum baca “sekologi of war”, sekologi perang). itu bahaya, tentara dibiarkan begini, karena lama-lama itu ketakutan mulai merasuk kedalam. Mau lari tidak bisa. Mau maju juga tidak bisa. Harus ada keputusan. Begitu Khalid datang. Dia konsolidasi. Dan setelah konsolidasi satu bulan lamanya, diputuskan kita memimpin secara bergantian. Pemimpin pertamanya Khalid. Setelah itu bergantian. Setelah itu dia putuskan hari penyerangan. Waktu hari penyerangan itu dia pidato. Pidatonya tidak terlalu panjang. Dan Saya perhatikan para sahabat itu kalau pidato kenegaraan atau pidato perang hampir tidak ada yang lebih dari 5 menit. Dilihat dari segi teksnya. Dia bilang begini: “Ya ma’syarol muslimin, hadza yaumun min ayyamillah”. Antum lihat kalimatnya!! “hadza yaumun min ayyamillah” darimana antum dapat istilah ayyamullah itu?. Itu saja, kemampuan orang mengartikulasi sebuah makna yang tervisualisasi begitu kuat antum langsung terikat dengan Allah SWT, terikat pada statemen pertama “hadza yaumun min ayyamillah, fa akhlisu fiihi jihadakum lillah”. Dia mulai dari statemen yang pertama “Fa akhlisu fiihi jihadakum fillah”. Setelah itu dia masuk pada tekhnisnya. Daripada kita sibuk menghitung jumlah pasukan, lebih baik kita sibuk menyembelih mereka itu. Setelah takbir Allahu Akbar maju mereka menyerang. Selesai….

Jadi komandan perang pun punya kadar yang besar dari naratif intelijen. tidak ada ceritanya orang kalau gak orator dan bukan penulis. Dia tidak akan abadi. Karena itu keterampilan itu mutlak. Itu dalam basic kompeten dari seorang leader.

Antum lihat lagi presiden-presiden Amerika yang berpengaruh dari yang lain. Umumnya itu adaalah begitu. Waktu perang dunia kedua siapa perdana menteri inggris?? Itulah kelebihannya dia. Umumnya orang Inggris itu tinggi-tinggi tapi dia pendek. Orator. Dari dialah istilah “Saya tidak punya sesuatu in Inggris, kecuali hanya darah, keringat dan air mata”. Itu dia ucapkan di parlemen, siapa bangsa yang sedang perang begitu dikasih kalimat-kalimat begitu. Abadi pidato itu.

Jadi begitu kita punya ide, kita jadi trandsetter. Yang lain, semuanya jadi follower.

Nah, yang kedua dari kapasitas leadership itu adalah kapasitas eksekusi. Kapasitas eksekusi itu ditentukan disini (orang dan uang). Ada orang yang punya kapasitas dan ada sumber daya. Kita datang kepada negara tapi kalau tidak ada orang untuk mengeksekusi ini. Tidak bisa. Sekarang persoalannya adalah apakah orang kita cukup? Tidak bakal cukup. Apakah kita harus menunggu sampai cukup? Tidak. Karena kapasitas yang ada dinegeri ini juga banyak, masalahnya mereka belum tersentuh sama harakah. Itu saja. Tetapi kalau kita punya ide-ide besar kita bisa mendayagunakan semua orang-orang itu. Jadi kapasitas ini menyangkut orang.

Sumber daya. Ini juga bukan sekedar uang. Sebenarnya media itu adalah sumber daya. Informasi adalah sumber daya. Uang adalah sumber daya. Tentara juga sumber daya. Jadi kita perlu sosial capital, kita juga perlu financial capital, kita juga perlu political capital.

Sekarang kalau kita jadi presiden, bayangkan kalau ada 35 menteri, di bawahnya masing-masing 10 dirjen, berapa jadinya? 350 dirjen. Dibawah dirjen itu biasanya ada berapa eselon duanya? Satu dirjen itu biasanya ada berapa direktur? Rata-rata 5 direktur, jadi 10 x 5 / atau 50 x 35. Berapa semua? 1500 lebih. Itu orang-orang inti yang antum perlukan.

Nah jadi kita harus mengakui terlebih dahulu ketidak sempurnaan kita itu. Tapi itu bukan penyakit. inikan menyangkut masalah cara mengelola. Yang penting kita mengetahui dahulu dimana batasan kita dan dimana batasan orang lain.

Nah kalau ini sudah clear ikhwah sekalian. Pertanyaan besarnya: Bagaimana caranya kita merakit semua potensi-potensi itu sekaligus? Yang tidak boleh tergantikan pada orang, itu adalah ini (narasi), itu yang harus original. Adapun yang ini (kapasitas dan sumber daya) bisa kita mix dengan orang, karena ada banyak orang yang punya ini (kapasitas) dan punya ini (sumber daya) tapi tidak jadi.

Jadi. ikhwah sekalian Antum lihat. Uang itu menyangkut persoalan yang lebih tekhnis. Dalam hal-hal seperti ini kita tidak bicara masalah hal-hal yang bersifat idealisme dan pragmatism. Ini persoalannya adalah pemahaman tentang realitas. Kita akan menjadi sangat picik kalau kita menyederhanakan masalah ini dengan persoalan idealis atau pragmatis. Karena tidak ada urusannya kesitu. Sama sekali tidak ada.

Antum belajar sirahpun, antum akan sampai pada kesimpulan ini kalau pemahaman kita benar. Karena tugas kita adalah sinaatul hayah, inilah semua yang kita perlukan untuk sampai kesitu. Dan menurut Saya inilah persoalan kronik di partai-partai Islam sejak masa Orde Baru yang tidak pernah mereka selesaikan. Mereka terjebak kepada persoalan yang sangat picik. Menjadi idealis. Akhirnya tidak bisa terjun ke politik secara bebas. Karena di politik orang dituntut untuk menjadi pragmatis. Pragmatisme itu adalah filsafat. Dan tidak banyak orang faham; filsafat yang berkembang di zaman modern ini. Pragmatisme itu adalah filsafat. Intinya adalah mengukur kebenaran suatu kebaikan, suatu ide dengan hasilnya. Kalau hasilnya benar idenya secara otomatis jadi benar. Itu idenya. Sebagian dari ide ini benar, tapi tidak seluruhnya benar. Jadi pragmatism itu bukanlah satu cara tentang penjelasan menghalalkan segala cara. Tidak. Dan menurut Saya parta islam karena terlalu lama terjebak dalam masa-masa itu. Dalam fikiran-fikiran seperti itu. Akhirnya fikiran besar itu tidak terangkum dalam ide besarnya.

Ini pula yang menjelaskan, kalau kita membaca literatur partai-partai Islam, para pemikir partai-partai Islam di Indonesia. Menurut Saya. Mereka tidak pernah keluar dari persoalan yang semoit seperti ini. Kenapa narasinya soekarno lebih bertahan daripada narasi atau pemimpin-pemimpin Islam pada waktu itu. Tema yang difikirkan Soekarno pada saat itu jauh lebih besar dari tema yang kita fikirkan. Saya tidak tahu apakah buku itu masih dicetak sampai sekarang atau tidak, tapi Saya dulu membaca total bukunya Natsir hampir semuanya saya baca. Yang paling khusus itu adalah bukunya kapita selekta. Tapi kalau antum baca debatnya soekarno dengan Abdul Qadir Hasan, antum akan melihat ide itu. Tapi ide yang lebih menarik adalah di bukunya “Bung Karno penyambung lidah rakyat”.

Antum baca lagi pledoynya waktu dia berumur 29 tahun, memang terasa perbedaannya. Jadi kalau kemudian dia mendapatkan penerimaan yang lebih luas. Itu masalah skala, ruang yang kita fikirkan. Dan PKS ini kalau yang kita fikirkan perkara yang kecil itu, orang lain akan merasa bahwa kita tidak berada dalam ruang pemikiran PKS. Jadi orang-orang dinegeri ini merasa bahwa mereka bukan objek yang difikirkan oleh PKS karena kita tidak pernah punya sesuatu yang kita tawarkan. kita tidak pernah punya satu profosal untuk bangsa Indonesia.

Apa ide kita tentang masa lalu dan apa ide kita tentang the next Indinesia? Tidak jelas. Tidak prnah kita rumuskan. Dan kita tidak pernah membuat satu proses internal yang sangat intensif untuk merumuskan itu. Ada platform kita sebenarnya. Platform kita itu kan ada. Yang sekarang sudah akan dicetak. Tapi ide secara keseluruhan itu yang belum ada.

Nah menurut Saya. Itu yang menyebabkan kalau kita ingin mengungguli partai-partai sekuler dimasa yang akan datang. Kita harus pertama kali mengungguli disini (narasi). Akhirnya partai-partai islam itu cenderung yang kita pertahankan kemudian kembali kepada kampanye yang simplikasi. Membangun emosi keagamaan. Kita tidak membangun satu rasionalitas kehidupan. Kita tidak menawarkan sesuatu yang rasional yang kita kemudian yang ditawarkan oleh partai-partai islam adalah sentiment keagamaan.

Makanya kalau antum lihat ikhwah sekalian di bukunya Dreasley tentang Islamisme di timur tengah dan transformasinya ke Indonesia, dia menukil satu tulisan yang ditulis oleh olive roey: “Tajribatul al-islam siyasi”, penulis Perancis, sudah diterjemahkan oleh penerbit Mizan, (kegagalan Islam politik), jadi dia mengatakan; “Jadi demokrasi, perlu di globalisasi dan tidak perlu mengkhawatirkan munculnya pundamentalis-pundamentalis Islam, gerakan Islam pundamentalis di dalam sistem demokrasi. Kenapa? Ketika mereka berkuasa. Mereka akan turun sendiri. Karena mereka tidak punya kapasitas untuk berkuasa. Itu dia persoalannya.

Kalau antum pergi ke Teluk sekarang antum bisa memahami kenapa terjadi futur yang terjadi di teluk secara qoutry. Antum lihat di teluk sekarang itu ada perubahan demografi yang luar biasa dahsyatnya. 5 atau 10 tahun ke depan penduduk asli Emirat Arab itu akan tinggal 2,5 %. Inikan rekomposisi demografis yang dahsyat. Tidak ada lagi fitur-fitur islam atau arab itu di Dubai. Seluruhnya fitur-fitur modern disana. tidak ada. Itu benar-benar global sistem. Sehingga ikhwah disana itu mulai futur. Hampir jama’i. Tidak sampai keluar dari ikhwan seluruhnya tapi hampir semua menjadi futur. Tidak mengerti apa yang harus mereka lakukan. Penduduknya hanya 200-300 ribu sekarang hampir 400 ribu, dan undang-undang ke warga negaraannya dirubah. Siapa yang punya –karena dihubungkan dengan investasi-, sekarang Qatar mulai merubah undang-undang kewarganegaraannya, mereka memerlukan tambahan penduduk. Jadi kalau antum pergi ke Qatar sekarang Antum antri di bandaranya. Antum akan lihat, yang antri itu; satu orang cina, yang kedua orang Eropa timur, yang ketiga orang India.

Di Dubai sekarang ada lebih dari satu juta orang India, tapi di Dubai sudah ada China Town. Jadi perubahan demografi ini. Itu membingungkan orang semuanya. Karena ada uang secara tiba-tiba yang meledak, datang dalam jumlah besar dan ini harus dikelola, harus di buat proferti, kalau disebarkan ke proferti yang ngisi siapa? Kan mereka perlu warga Negara. Mereka perlu penduduk untuk mengisi itu. Kalau tidak uang ini mau disimpan dimana? Disimpan diluar tidak aman disimpan di dalam (disini), Negara kecil.

Makanya Saya lihat ikhwah banyak yang futur, kehilangan ide bagaimana berhadapan dengan situasi baru ini. Bandingkanlah perubahan strategis ini dengan buku-buku yang ditulis oleh mufakir harakah disana. Para duat! Konsennya kemana mereka? Konsennya kemana para duat? Antum lihat buku-buku yang ditulis misalnya yang paling poluler misalnya da’i di Saudi? Aidh al-Qarni. Antum lihat ide-idenya..!! Bandingkan perubahan sosial yang sekarang sedang terjadi. tidak macth. Semua ide-ide tentang la tahzan itukan ide tentang pertahanan sosial, bukan sesuatu yang expansif. Tentang bagaimana mendayagunakan perubahan-perubahan baru, situasi-situasi baru. Ini tidak ada. semua ide-ide itu adalah ide-ide defensive. makanya tidak akan kuat bertahan. Orang tidak setuju dengan Walid bin Tholal. Dia bikin rotanah. Pusing… semua pake satelit. Sekarang kalau antum lihat, sistem televisi disana itu bukan pakai transmeter, tapi pakai satelit langsung. kalau antum nginep di apartemen Saudi atau di Kuwait atau disemua Negara Teluk. Saya pernah nginep di Kuwait. Di dalam apartemen itu, kita bisa nyambung dengan 500 channel televisi, Antum bisa bayangkan roda pemerintahan yang digerakkan. Sudah perubahan demografi seperti ini. Sistem pemerintahannya monarki pula. Bagaimana harakah bisa bergerak dalam situasi seperti itu? Sudah begitu ada Amerika di sekililingnya. Dan ada Palestina yang setiap mereka dengar tentang pembunuhan, pembunuhan dan pembunuhan. Bagaimana tidak stress semua orang itu. Makanya tumplek semuanya di Mekkah. Haji Umroh semuanya.

Saya beberapa kali ke Aljazirah, bertemu dengan wartawannya dan lain-lain. Semua dalam keadaan defresi. Jadi sesuatu terjadi disekitarnya dan dia tidak bisa mencernanya. Kita juga akan mengalami hal seperti itu. PKS ini, kalau kita tidak punya ide besar untuk mencerna, isti’ab, ihtiwa terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi dan perubahan-perubahan yang ada. Kemudian sebuah profosal baru untk bangsa Indonesia, kita tidak pernah nevely leader.

Nah karena itu, persoalan PKS sekarang sama persoalan dengan bangsa Indonesia. Ada sumber daya alamnya, tidak punya teknologi dan tidak punya modal. Apa yang dilakukan oleh bangsa seperti itu? Mendatangkan investor dan beli alat teknologi!! Jangan tunggu alat sampai Indonesia pintar-pintar mengelola minyak sendiri. Kita punya laut, tapi tidak bisa kita dayagunakan yang ambil semua isinya, semuanya orang Taiwan.

Jadi karena itu ikhwah sekalian…

Ide tentang strategic partnership itu adalah ide tentang ketidak cukupan. Kita sebagai satu komponen ini tidak berdiri sendiri, tidak punya semua asset yang kita perlukan itu, dan karena itu kita perlu share.

Dan dalam konstalasi global sekarang ini tidak bagus bagi harakah islamiyah itu. tidak menguntungkan sama sekali bagi harakah islamiyah itu, untuk muncul secara sangat digdaya, naik berkuasa sendiri habis itu yang lain semua tunduk. Tidak.

Kita belum lihat model Turki sepanjang apa dia bisa bertahan?? Tetapi kita perlu melihat waktu-waktu ke depan, karena itu menurut Saya model Turki perlu bagus untuk kita pelajari dan tidak bagus pula untuk kita kagumi secara berlebihan, kita lihat bagaimana ini akan berlanjut dimasa yang akan datang. Dan situasi seperti itu kalau antum perhatikan di Indonesia, untuk negeri yang sangat plural seperti ini itu juga bahaya itu. Tetapi yang penting bagi kita, kalau kita punya tiga-tiganya itu adalah bagaimana mengendalikan. Mengendalikan kan artinya mempengaruhi dan mengatur, bukan memiliki semuanya, oleh karena itu kita juga tidak membayangkan nanti pengusaha nanti semuanya pengusaha PKS, birokrat seluruh birokrat PKS, yang kita bayangkan itu bahwa semua pengusaha itu mempunyai kontribusi dalam arus besar pembangunan bangsa kita di bawah kepemimpinan PKS. Itulah ide tentang strategic partnership. Bagaimana mengumpulkan aset bersama menjadi satu power.

Kalau kata Iqbal dalam salah satu puisinya dia bilang : “Ya Allah ajarkanlah kepada kami kembali ajaran untuk saling mencintai supaya lidi-lidi ini bisa kami rakit jadi sapu !!” Persoalan kita kira-kira itu.

Nah itulah ide tentang strategic partnership. Bagaimana meperbesar aset dengan mangakumulasi aset orang digabung jadi satu. Konsep itu adalah konsep pendayagunaan. Ini bukanlah konsep suatu antitesa yang harus kita pertentangkan dengan konsep muamarah, konspirasi yang selalu kita pelajari dalam ghazwul fikri. Sebab dulu kita menganggap televisi sebagai ghazwul fikri tetapi sekarang menjadi shahib pemilik ghazwul fikri, yang setiap hari menyebarkan ghazwul fikri itu. Yang bangun gedung kita dia pula. Setiap hari kita bikin doktrin ghazwul fikri dan yang kasih gedung kita dia.

Apapun posisi kita itu selalu ada konflik, jadi kita tidak membayangkan bahwa semua kekuatan dinegriini bisa kita rangkul semua. Yang diperlukan di negeri ini, kekuatan yang solid sekitar 60 % dari total power yang ada. Karena kalau tidak ada, negeri ini terancam disintegrasi. Bahaya. Mesti ada yang seperti itu, sebab jika kurang dari itu maka tidak akan cukup untuk memimpin negeri yang kuat.

Jadi gabungan antara demokrasi dan kesejahteraan itu hanya mungkin terjadi kalau ada civil society yang kuat, ada pemerintahan yang efektif. Kalau sekarangkan, ada civil society tidak terlalu kuat tapi ada juga pemerintahan yang tidak efektif. Dan karena itu ada pasar yang tidak dinamis, itu sebabnya setelah kita demokratis kita tidak jadi sejahtera, tidak kunjung sejahtera. Kalau ini ikhwah sekalian kita fahami, sekarang dengan demikian kita bisa memahami kata kunci yang kita sebut sebagai strategic partnership, sebelum kita masuk pada partnership ini Saya mau bertanya sedikit;

Selama ini apa hambatan orang untuk bergaul dengan PKS?

Kenapa dimata tentara kita dianggap ancaman?

Kenapa dimata, -ini contohnya Jawa Barat. Agum Gumelar sudah mau koalisi dengan PKS, DPW Jawa Barat sudah sepakat dengan PDIP juga untuk membuat koalisi merah putih. Agum Gumelar sudah setuju, tadinya jelek fikirannya tentang PKS, setelah diskusi dia berubah, dia datang ke Megawati, Megawari yang tidak mau.

Jadi sekarang kita tanya dulu “mawaniul ijtima ma’a al-‘adalah”? apa hambatan orang untuk masuk ke kita itu?

Image ini yang bikin mereka atau kita ? kita sendiri.

Jadi hambatan terbesar orang untuk bertemu dengan PKS itu adalah karena kita memang yang tidak menginginkan mereka itu. Itu hambatan paling besar. Dan menurut Saya inilah inti ekslusifisme itu. a

Makanya imam Ghazali mengatakan : “Al-Insanu aduwwun ma yajhulu”. Manusia memusuhi apapun yang tidak diketahuinya. Karena kita tidak tahu orang lain kita cenderung memusuhi orang lain. Karena orang lain melihat kita ini jalan masuk PKS juga tidak jelas, kanal-kanal masuk PKS lewat apa coba? Antum lihat, kanal pintu untuk masuk PKS itu lewat apa? Jadi kalau kita mau masuk PKS tidak jelas, pintunya dimana tidak jelas. Tapi kalau antum mau setor duit di BCA itu kan outletnya jelas kan. Ada dimana saja outlet kami. Tapi PKS itu tidak punya outlet, itu masalahnya? Tidak ada.